| 40 Views
Fenomena Takut Menikah di Kalangan Anak Muda, Tren Baru yang Membahayakan
Ilustrasi perempuan menolak untuk menikah. (Dok. Freepik)
Oleh: Haryani, S.Pd.I
Pendidik di Kota Bogor
Marriage is scary, atau istilah lain dari fenomena takut menikah, merupakan sebuah tren baru yang berkembang di kalangan remaja saat ini. Gaya hidup yang saat ini cenderung bertolak belakang dengan kebiasaan zaman dulu, di mana jika kita melihat fakta yang berkembang ke belakang, rata-rata saat memasuki usia menikah para pemuda mempersiapkan diri baik secara psikis maupun finansial untuk menuju ke jenjang pernikahan. Ada rasa malu jika di usianya yang sudah terbilang dewasa belum juga menemukan jodohnya.
Berbeda dengan fakta yang terjadi hari ini, banyak pemuda yang memilih menunda pernikahan dan memilih hidup melajang. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, dan seakan-akan hal tersebut menjadi sebuah pemakluman yang wajib ditoleransi oleh semua orang.
Sebagaimana dilansir di media Kompas.id:
"Fenomena generasi muda lebih takut miskin daripada takut tidak menikah."
Menurut M. Faesal Fakih dan Budiawan Sidik mengatakan bahwa generasi saat ini berbeda pemikiran dalam memandang sebuah pernikahan. Dahulu, anak muda menempatkan pernikahan sebagai tonggak kedewasaan yang harus dicapai. Bahkan, mereka yang sudah berumur 30-an tetapi tak kunjung menikah kerap dikaitkan dengan "keterlambatan" melepas masa lajang. Terlebih bagi perempuan, anggapan "perawan tua" kerap kali melekat pada mereka yang tidak kunjung menemukan jodohnya.
Namun, di era saat ini tampaknya pandangan tersebut mengalami pergeseran. Salah satunya bisa dilihat dari sebuah fenomena yang belakangan ini sedang hangat diperbincangkan di media sosial, yakni mengenai generasi muda yang lebih takut miskin daripada takut tidak menikah. (Kompas.id, 27 November 2025)
Faktor-Faktor yang Menjadi Penyebabnya
Jika dilihat dari fakta yang beredar saat ini, kita bisa menelaah berbagai penyebab yang menjadi maraknya fenomena marriage is scary saat ini.
Pertama, adanya anggapan atau asumsi biaya menikah itu mahal, bahkan tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan untuk membiayai perhelatan pesta pernikahan sehingga menjadi alasan bagi pemuda, khususnya laki-laki, untuk menunda pernikahan sampai mempunyai modal yang cukup.
Kedua, gaya hidup hedon dan materialistis yang tumbuh dari pendidikan sekuler dan pengaruh media sosial, yang mendorong para orang tua dan pasangan calon pengantin menginginkan menggelar pesta yang mewah dan meriah sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tentunya biaya tersebut separuhnya akan dibebankan kepada calon pengantin laki-laki.
Ketiga, bergesernya tujuan utama dari pernikahan, yang seharusnya mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Pernikahan dipandang sebagai beban, bukan sebagai ladang kebaikan dan jalan melanjutkan keturunan.
Keempat, sistem kapitalisme yang menjadi ideologi negara saat ini membuat masyarakat takut hidup dalam kemiskinan. Akibat buah sistem kapitalisme yang membuat biaya hidup tinggi, pekerjaan sulit, dan upah rendah, sementara negara sebagai regulator cenderung lepas tangan dalam menjamin kesejahteraan rakyat sehingga beban hidup dipikul individu.
Islam Menjadi Solusi Praktis
Dalam sistem Islam, tentunya negara menjamin kebutuhan dasar rakyat dan membuka lapangan kerja yang luas melalui penerapan sistem ekonomi Islam. Begitupun dengan pengelolaan kepemilikan umum dilakukan oleh negara, bukan swasta atau asing, sehingga hasilnya kembali untuk kesejahteraan masyarakat dan mampu menekan biaya hidup.
Pendidikan dalam Islam berbasis akidah yang membentuk generasi berkarakter, tidak terjebak hedonisme dan materialisme. Mereka justru menjadi penyelamat umat. Yang tidak kalah penting adalah penguatan institusi keluarga dengan mendorong pernikahan sebagai ibadah dan penjagaan keturunan.
Dan hanya dengan Islam lah semua itu bisa terwujud.
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum: 21)
Wallahu'alam.