| 95 Views
Fenomena Job Hugging: Ketika Bertahan Bukan Lagi Pilihan
Oleh: Fatimah NJL
Belakangan ini, fenomena Job Hugging semakin marak terjadi, terutama di kalangan generasi muda usia produktif. Job Hugging adalah kecenderungan untuk tetap bertahan dalam satu pekerjaan yang tengah dijalani, meskipun individu tersebut sudah kehilangan minat dan motivasi. Mereka merasa "terpaksa" bertahan demi stabilitas dan keamanan finansial, Ubahkan jika pekerjaan itu telah mengikis semangat, kreativitas, dan inovasi.
Fenomena Job Hugging muncul sebagai respons langsung terhadap kondisi ekonomi yang lesu dan meningkatnya ancaman PHK massal, yang menciptakan ketidakpastian dalam mencari pekerjaan baru. Akibatnya, banyak pekerja yang memilih menghindar dari menjadi "pengangguran intelektual", yaitu lulusan perguruan tinggi dengan potensi besar yang terhambat, dengan menjadi pelaku Job Hugging.
Lantas, mengapa fenomena ini bisa terjadi? Jawabannya menyentil dua aspek penting yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara: pendidikan dan lapangan pekerjaan.
Pertama, sistem pendidikan kita saat ini masih berorientasi pada menghasilkan lulusan yang hanya "siap kerja." Kurikulum yang ada sering kali gagal membekali individu dengan kemampuan adaptasi, inovasi, atau bahkan soft skills yang dibutuhkan untuk menghadapi dinamika pasar kerja. Alih-alih melahirkan pribadi yang dapat menciptakan peluang, sistem ini justru memproduksi pekerja yang hanya terlatih untuk mengisi posisi yang sudah ada.
Kedua, dunia kerja didominasi oleh asas ekonomi kapitalis yang cenderung menomorsatukan keuntungan sekelompok orang, tanpa memperhatikan kesejahteraan individu di tingkat bawah. Tekanan untuk mencapai target yang tidak realistis, upah yang tidak sepadan, serta jaminan kerja yang minim membuat para pekerja merasa dieksploitasi. Dalam kondisi ini, mereka terpaksa bertahan pada pekerjaan yang tidak memuaskan demi sekadar bertahan hidup.
Sangat disayangkan jika negara terkesan abai terhadap persoalan ini. Padahal, menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai dan meningkatkan produktivitas rakyat adalah tanggung jawab utama negara. Hal ini tidak hanya sebatas membuka lowongan, melainkan juga menciptakan ekosistem kerja yang adil dan memungkinkan setiap individu berkembang.
Dalam pandangan Islam, seorang pemimpin memiliki tanggung jawab penuh atas kesejahteraan rakyatnya. Pendidikan dan pekerjaan harus selalu dibingkai dengan ruh keimanan, di mana setiap aktivitas dilakukan dengan dorongan ibadah dan terikat dengan standar halal dan haram. Sistem ini tidak hanya memastikan keadilan, tetapi juga menempatkan kesejahteraan individu di atas keuntungan pribadi.
Fenomena Job Hugging bukan sekadar masalah individu, melainkan cerminan dari kegagalan sistemik yang berakar pada dua hal: pendidikan yang tidak relevan dan ekonomi yang hanya mengutamakan keuntungan. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan perubahan menyeluruh yang mengembalikan peran negara sebagai penjamin kesejahteraan rakyat, bukan hanya regulator pasar.
Dalam pandangan Islam, tanggung jawab ini menjadi hal yang mutlak. Sebuah sistem yang didasarkan pada prinsip-prinsip Islam, yang menempatkan kesejahteraan umat di atas keuntungan material, dapat menjadi solusi. Dengan demikian, rakyat tidak lagi merasa "terpaksa" bertahan, melainkan dapat bekerja dengan gairah dan motivasi, karena setiap pekerjaan dipandang sebagai ibadah dan setiap individu terlindungi oleh jaring pengaman sosial yang kuat.