| 35 Views

Fenomena Fatherless: Buah Kehidupan Kapitalistik-Sekuler

Oleh: Dila 

Muslimah Jakarta

Beberapa waktu terakhir, istilah fatherless menjadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak anak muda mengaku tumbuh tanpa kehadiran figur ayah, baik secara fisik maupun emosional. Mereka hidup bersama ayah yang sibuk bekerja, jarang berbicara, dan tidak hadir dalam momen penting tumbuh kembang anak.

Fenomena ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah buah dari sistem kehidupan kapitalistik-sekuler yang telah mengubah makna keluarga menjadi sekadar unit ekonomi, bukan lagi benteng pendidikan moral dan spiritual.

Fatherless Merebak di Negeri dengan Mayoritas Keluarga “Lengkap”

Fenomena fatherless kini menjadi alarm sosial di Indonesia.

Menurut laporan VOI News berjudul “Desakan Ekonomi, Jutaan Anak Indonesia Fatherless”, Indonesia menempati urutan ketiga tertinggi di dunia dengan jumlah anak yang kehilangan figur ayah bukan karena yatim, tetapi karena ayah tidak hadir secara psikis dan emosional (11/10/25).

Kompas.id melalui artikel bertajuk “Bagaimana Dampak Ketiadaan Sosok Ayah bagi Tumbuh Kembang Anak” menyoroti bahwa anak yang tumbuh tanpa figur ayah cenderung mengalami krisis identitas, kesulitan mengatur emosi, dan lebih rentan terhadap penyimpangan perilaku (10/10/25).

Sementara itu, Tagar.co menyebut kondisi ini sebagai “alarm masa depan bangsa” karena fatherless melahirkan generasi rapuh, sulit fokus, dan tidak memiliki arah hidup yang kuat (08/10/25).

Di sisi lain, Kompas.id dalam artikel “Lewat Media Sosial, Dukungan untuk Fatherless Mengalir” menggambarkan munculnya komunitas digital yang berisi curahan hati para remaja yang tumbuh tanpa kehangatan ayah. Banyak dari mereka mengaku “rindu sosok ayah yang bisa diajak bicara, bukan sekadar pengirim uang tiap bulan” (10/10/25).

Ketika Ayah Tiada dalam Sistem yang Memeras Waktu dan Jiwa

Jika kita menelusuri akar masalah, fatherless bukan sekadar akibat perceraian atau karakter ayah yang introvert.

Masalah ini lahir dari sistem kapitalistik yang menempatkan manusia sebagai mesin produksi dan menilai keberhasilan dari seberapa banyak materi yang dihasilkan. Para ayah dipaksa berlari tanpa henti, mengejar target, lembur, dan mencari tambahan pekerjaan agar dapur tetap ngebul. Akibatnya, waktu bersama keluarga terpangkas habis.

Anak-anak tumbuh tanpa bimbingan spiritual dari ayah, dan istri kehilangan figur pelindung sejati di rumah.

Dalam sistem sekuler, peran ayah direduksi hanya sebagai “pencari nafkah.” Padahal, dalam Islam, ayah bukan sekadar penyedia finansial, tetapi qawwam—pelindung, pemimpin, dan pendidik bagi keluarganya.

Sayangnya, sistem ini telah mencabut ruh kepemimpinan tersebut. Para ayah menjadi korban struktur ekonomi yang tidak adil. Gaji minim, biaya hidup tinggi, dan lapangan kerja yang sulit membuat mereka terjebak dalam lingkaran kerja tanpa makna.

Mereka kehilangan waktu berharga untuk hadir di hati anak-anaknya. Tak heran jika banyak anak kini merasa “yatim dalam rumah sendiri.” Ayah mereka ada, tetapi jiwanya tiada—kosong dan asing di mata anak-anaknya.

Menegakkan Kembali Fungsi Qawwam dalam Keluarga

Islam menempatkan ayah dan ibu sebagai dua tiang penyangga keluarga yang saling melengkapi.

Al-Qur’an menegaskan dalam Surah An-Nisa ayat 34:
“Kaum laki-laki itu adalah qawwam (pemimpin dan pelindung) bagi kaum wanita….”

Dalam pandangan Islam, ayah memiliki tanggung jawab ganda: sebagai penanggung nafkah dan teladan pendidikan. Kisah Luqman Al-Hakim menjadi contoh bagaimana seorang ayah mendidik anaknya dengan hikmah, bukan dengan jarak. Ia hadir secara batin, menasihati dengan lembut, dan membentuk karakter anak dengan keimanan.

Islam juga menata peran negara agar tidak membiarkan ayah terpenjara oleh tekanan ekonomi. Negara wajib menjamin pekerjaan dengan upah layak, menstabilkan harga kebutuhan, dan menjamin kesejahteraan rakyatnya.

Dengan sistem ekonomi Islam berbasis Baitul Mal, pendapatan negara dikelola untuk menjamin kebutuhan dasar rakyat, termasuk pendidikan dan kesehatan, sehingga ayah tidak harus mengorbankan kebersamaan demi bertahan hidup.

Lebih dari itu, dalam sistem Islam, tidak ada anak tanpa figur ayah. Jika seorang anak kehilangan ayah biologis, maka sistem perwalian akan menjamin keberlangsungan fungsi ayah melalui wali yang bertanggung jawab penuh. Anak tetap memiliki pelindung, pembimbing, dan penjaga moral.

Saatnya Kembali pada Sistem yang Menghidupkan Peran Ayah

Fenomena fatherless adalah cermin retak dari peradaban kapitalistik-sekuler—sistem yang menjauhkan manusia dari peran hakikinya, mengganti kasih dengan kesibukan, dan menukar kebahagiaan dengan pundi-pundi.

Kita tidak bisa menyembuhkan luka ini hanya dengan terapi emosional atau komunitas dukungan daring. Akar masalahnya bukan pada individu, tetapi pada sistem yang merusak keseimbangan hidup manusia.

Sudah saatnya kita kembali kepada sistem yang menghormati peran keluarga, menghidupkan ruh qawwam, dan menjamin kesejahteraan tanpa mengorbankan kedekatan batin.

Sistem itu adalah Islam—bukan sekadar agama, tetapi peradaban yang menyatukan ekonomi, sosial, dan spiritual dalam satu kesatuan harmonis.

Karena sejatinya,
ayah bukan sekadar pencari nafkah,
tetapi penjaga peradaban.

Dan peradaban yang kehilangan ayah adalah peradaban yang sedang menuju kehancuran.


Share this article via

50 Shares

0 Comment