| 42 Views
Fenomena Bullying: Dari Canda Berujung Bahaya, Adakah Solusinya?
Sumber: https://www.pexels.com/search/bullying/
Oleh : Yayat Rohayati
Sekitar pukul 03.00 WIB tanggal 31 Oktober 2025, api pertama menyala di lantai dua Asrama Putra Dayah (Pesantren) Babul Magfiroh, Kec. kita Baro, Aceh Besar. Karena bangunan asrama didominasi kayu dan triplek, akhirnya api pun merambat dengan cepat hingga kantin dan rumah salah satu pembina yayasan. Kerugian diperkirakan kurang lebih dua Miliar (Kumparan News.com, 7 November 2025).
Mirisnya, pelaku pembakaran adalah seorang santri di bawah umur. Santri tersebut melakukan pembakaran karena tertekan secara mental akibat sering mengalami bullying dari beberapa temannya. Dia berniat membakar gedung asrama agar barang-barang milik teman yang sering mengganggunya ikut habis terbakar.
Selain di Aceh, kasus yang sama terjadi di Jakarta. Telah terjadi ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading. Ledakan terjadi saat sedang berlangsungnya salat Jumat. Setelah melakukan pengecekan diduga pelaku aksi ledakan tersebut adalah seorang siswa kelas 12 yang merasa tertekan akibat bullying dari teman-temannya (CNNIndonesia.com, 8 Oktober 2025).
Dari dua kasus di atas penyebabnya sama, yakni dendam dan tekanan korban bullying. Awalnya mungkin hanya canda biasa dalam pertemanan atau niat pelaku hanya untuk seru-seruan. Akan tetapi bisa berujung petaka yang membahayakan banyak orang. Rasa kesal atau dendam wajar didialami ketika kita tersakiti baik verbal maupun non verbal. Akan tetapi buruknya, Media Sosial hari ini banyak menyajikan konten-konten yang memunculkan ide bagi korban untuk melampiaskan dendam. Alhasil, banyak terjadi seperti kasus di atas.
Fenomena bullying kian marak terjadi di beberapa daerah, di kota maupun di desa. Hal ini menunjukkan adanya problem sistemik pendidikan. Pendidikan dalam sistem kapitalisme sekuler hari ini orientasinya adalah materi. Pendidikan hanya ditujukan untuk pencapaian angka diatas selambar kertas bernama ijazah. Pendidikan mengesampingkan akhlak dan moral generasi. Hal ini bisa dilihat dari pelajaran agama di Sekolah-Sekolah Negeri yang hanya diberikan dua jam dalam sepekan. Sehingga sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) betul-betul melekat pada masyarakat terutama generasi hari ini.
Maka tak heran jika terjadi kerusakan di segala lini kehidupan, akibat dari mencampakkan aturan Allah. Dimana aturan Allah hanya berlaku di ranah ibadah individu kepada pencipta.
Lalu adakah solusi tuntas fenomena bullying?
Jika dilihat dari penyebab kerusakan generasi hari ini, akarnya jelas terletak pada sistem yang dijalankan di negeri ini. Sistem yang mencampakan aturan Allah. Halal haram bukan lagi menjadi tolak ukur suatu perbuatan.
Maka solusinya adalah dengan menerapkan kembali aturan, atau hukum-hukum Allah secara keseluruhan. Hal ini pernah dicontohkan selama 13 abad lamanya, dan IsIam memimpin peradaban.
Ada beberapa alasan kenapa harus sistem IsIam; pertama, dalam IsIam pendidikan berbasis akidah akan diberikan pada setiap individu. Melalui pembinaan intensif, individu masyarakat diharapkan memiliki pola pikir IsIami ( aqliyah islamiyah) dan pola sikap IsIami (nafsiyah islamiyah). Sehingga terbentuklah individu berkepribadian IsIam (syaksiyah Islamiyah), individu yang memiliki ketakutan terhadap Allah SWT. Dan senantiasa berhati-hati dalam melakukan perbuatan, karena yakin semua yang dilakukan tak luput dari pencatatanNya. Untuk dipertanggungjawabkan di pengadilan akhirat.
Allah SWT berfirman:
"Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya" (TQS. Al-Muddassir : 38) .
Kedua, negara berkewajiban menjamin pendidikan setiap warganya. Negara akan memberikan pendidikan terbaik secara gratis dan merata.
Ketiga, negara akan mengawasi media sosial dari segala hal yang berpotensi merusak generasi. Negara akan menyortir video atau konten-konten negatif agar tak menjadi tontonan dan tuntunan warganya. Hal ini dilakukan dalam rangka kewajiban negara melindungi generasi dari kerusakan.
Wallahu a'lam.