| 53 Views

Dibalik Narasi “Damai”: Gaza Sedang Tidak Baik-baik Saja

REUTERS/Dawoud Abu Alkas

Oleh: Kursiyah Azis 

Aktivis Muslimah

Di atas panggung diplomasi internasional, frasa “situasi terkendali” terdengar seperti penghiburan yang dipaksakan. Ia disampaikan dalam konferensi pers, bahkan ditulis dalam laporan resmi, lalu diulang oleh mereka yang ingin meyakinkan dunia bahwa tragedi di Gaza hanyalah riak kecil yang bisa ditata dengan kalimat-kalimat administratif. Namun sayangnya, narasi itu runtuh seketika tatkala kita melihat apa yang benar-benar terjadi di lapangan. Ya, Gaza tidak pernah baik-baik saja. Gaza masih menjerit hingga detik ini.

Melansir dari Antara News (15/11/2025), sejak gencatan senjata mulai diberlakukan pada 10 Oktober, warga di seluruh Gaza melaporkan ledakan terjadi hampir setiap hari di area timur, yang diyakini berasal dari operasi Israel yang menargetkan terowongan dan bangunan yang rusak. Garis kuning juga membatasi akses bagi ribuan warga yang seharusnya bisa kembali ke rumah mereka di Gaza City bagian timur, Khan Younis, dan kota Beit Hanoun serta Beit Lahia di sebelah utara. Warga setempat mengatakan bahwa puluhan warga Palestina yang berupaya mendekati atau melintasi garis tersebut ditembak oleh pasukan Israel. Israel menyampaikan bahwa pasukannya menargetkan militan yang berupaya melewati garis itu, yang dianggap sebagai ancaman keamanan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa di balik pernyataan politis bahwa keadaan “stabil”, ratusan ribu keluarga hidup tanpa kepastian hari esok. Rumah-rumah mereka telah rata dengan tanah, dan mustahil kembali berdiri hanya karena ada pernyataan pers yang menipu. Anak-anak yang kehilangan orang tua tidak akan kembali tersenyum hanya karena dunia menyebut keadaan “terkendali”. Bagi mereka yang bertahan hidup di tengah reruntuhan, frasa itu bukanlah gambaran kenyataan, melainkan bentuk pengingkaran yang terang-terangan.

Ironisnya, narasi “situasi terkendali” sering disampaikan oleh pihak yang justru memiliki kekuasaan untuk mengakhiri penderitaan itu. Ketika aliran bantuan diputus, ketika akses kesehatan nyaris mustahil, dan ketika suara bom lebih sering terdengar daripada suara manusia, klaim bahwa keadaan aman menjadi penghinaan terhadap mereka yang mengetuk pintu dunia meminta pertolongan.

Penderitaan Gaza bukan sekadar angka kerugian atau statistik korban. Ia adalah ayah yang membawa jasad anaknya sambil berlari. Ia adalah ibu yang harus memilih antara menyelamatkan satu anak atau yang lain. Ia adalah generasi yang tumbuh tanpa sekolah, tanpa air bersih, dan tanpa ruang untuk bermimpi. Mereka tidak membutuhkan dunia untuk berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Mereka membutuhkan dunia untuk berhenti berpura-pura.

Dan yang lebih menyedihkan, sebagian besar komunitas internasional tampak nyaman bersembunyi di balik istilah diplomatis tersebut. Ada rasa aman ketika sebuah tragedi dibungkus dalam bahasa yang rapi. Kata “terkendali” membuat siapa pun merasa bebas dari tanggung jawab moral; seolah-olah tragedi itu sedang dalam penanganan, sehingga tidak perlu lagi menekan, bersuara, atau bergerak untuk Gaza.

Padahal, diam adalah bentuk keberpihakan. Mengulang narasi “situasi terkendali” sama saja dengan ikut serta memadamkan jeritan mereka yang tertindas. Dunia tidak boleh membiarkan tragedi yang begitu nyata dikecilkan oleh jargon politik. Gaza tidak membutuhkan belas kasihan semata; Gaza membutuhkan keberanian dunia untuk menyebut ketidakadilan sebagai ketidakadilan yang nyata adanya.

Mirisnya, sampai hari ini setiap warga Gaza masih hidup dalam ketidakpastian, dilanda ketakutan, dan kehilangan. Setiap hari adalah upaya bertahan hidup, bukan karena keadaan terkendali, tetapi justru karena tidak ada yang benar-benar mengendalikannya kecuali kekerasan. Selama dunia terus menipu dirinya sendiri dengan narasi yang menenangkan, penderitaan itu akan terus berulang.

Gaza menjerit bukan karena ingin diperhatikan, tetapi karena benar-benar terluka. Narasi palsu tentang stabilitas hanya membuat luka itu semakin dalam. Jika dunia masih memiliki nurani, ia tidak boleh lagi menutup mata di balik klaim “situasi terkendali”.

Sudah saatnya melihat kenyataan apa adanya: Gaza tidak baik-baik saja, dan dunia harus berhenti berpura-pura.

Solusi Mustanir

Dalam sistem kapitalis sekuler, sesuatu yang tampak sedang tidak baik-baik saja bisa dengan mudah dimanipulasi menjadi sebaliknya. Dan anehnya, dunia begitu mudah percaya apa pun yang dinarasikan oleh mereka yang memiliki kekuasaan.

Untuk kesekian kalinya, dunia kembali disuguhi narasi palsu yang mengatakan bahwa Gaza kini berada dalam kondisi baik, padahal kondisi Gaza masih penuh luka, kehilangan, dan kehancuran. Hal ini bukan hanya akibat agresi fisik, tetapi juga buah dari lemahnya posisi umat Islam di tingkat global. Dalam sistem Islam, kezhaliman tidak akan dibiarkan berlangsung tanpa solusi. Islam justru menawarkan jalan keluar yang komprehensif, bukan temporer, tetapi bersifat akar dan menyeluruh, yang dimulai dari individu, masyarakat, hingga negara.

Beberapa solusi Islam yang dapat mengembalikan Gaza pada keadaan yang terhormat, aman, dan bermartabat antara lain:

Pertama. Persatuan Umat Islam sebagai Satu Kesatuan (Ummah Wahidah).
Gaza akan terus terpuruk bila dunia Islam tetap terpecah. Oleh karena itu, Islam memerintahkan umat untuk bersatu dalam kekuatan politik, militer, dan sikap. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10). Persatuan bukan hanya slogan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk koordinasi kebijakan luar negeri dan solidaritas antarnegeri Muslim, serta penghapusan sekat-sekat nasionalisme. Dengan persatuan tersebut, dukungan terhadap Gaza tidak lagi bersifat pribadi atau seremonial, tetapi terkoordinasi dan kuat.

Kedua. Negara Islam Melindungi Wilayah dan Nyawa Kaum Tertindas.
Dalam Islam, penjagaan kehormatan dan keamanan umat adalah tanggung jawab negara (daulah), bukan hanya individu. Literatur fikih menegaskan wajibnya membela wilayah Muslim yang diserang, menghalangi penjajahan, dan mengirim kekuatan militer untuk menghentikan kezaliman jika diperlukan.

Ketiga. Menghentikan Normalisasi yang Melegitimasi Penjajahan.
Sistem Islam melarang keras mendukung atau bersekutu dengan pihak yang menindas umat Islam. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT: “Janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim…” (QS. Hud: 113). Cara terbaik untuk mewujudkan kondisi yang baik bagi Gaza adalah memutus normalisasi politik yang memperkuat penjajah, menghentikan kerja sama ekonomi atau keamanan yang menguntungkan pihak penindas, serta menggunakan tekanan diplomatik kolektif negara-negara Muslim. Selama normalisasi berjalan, Gaza akan terus kehilangan haknya.

Keempat. Mobilisasi Kekayaan Umat untuk Membantu Palestina.
Dunia Islam memiliki sumber daya energi, pangan, dan ekonomi yang besar. Islam mengajarkan bahwa kekayaan tersebut harus digunakan untuk menolong umat yang tertindas, menekan agresor melalui embargo, dan memperkuat Gaza secara material, bukan hanya bantuan kecil dan sporadis. Sebab ekonomi dalam Islam adalah instrumen kekuatan, bukan sekadar pasar.

Kelima. Dukungan Internasional melalui Dakwah dan Pencerdasan Umat Dunia.
Islam mewajibkan penyampaian fakta dan kebenaran untuk mengungkap kezaliman. Dengan demikian, kondisi Gaza dapat kembali baik-baik saja. Gaza akan benar-benar baik saat umat Islam kembali pada mekanisme Islam yang menyeluruh. Selama umat Islam kembali pada mekanisme ini, Gaza bukan hanya baik-baik saja, tetapi akan kembali merdeka, aman, dan bermartabat.

Wallahu a’lam.


Share this article via

21 Shares

0 Comment