| 4 Views
Di Tengah Gejolak Timur Tengah, NTB Menjaga Kabar Baik: 155 PMI dan 1.372 Jemaah Umrah Dipastikan Aman
CendekiaPos - MATARAM — Dalam beberapa hari terakhir, banyak keluarga di Nusa Tenggara Barat memegang ponsel lebih lama dari biasanya. Grup WhatsApp keluarga jadi lebih ramai, berita-berita konflik dibagikan bergantian, dan satu kalimat yang paling sering muncul adalah yang paling sederhana: “Ada kabar?”
Kabar itu akhirnya datang dari Pemerintah Provinsi NTB. Di tengah situasi Timur Tengah yang membuat sebagian warga waswas, Pemprov NTB memastikan warganya yang berada di kawasan tersebut—baik pekerja migran maupun jemaah umrah—dalam kondisi aman.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) NTB sekaligus juru bicara Pemprov NTB, Ahsanul Khalik, mengatakan hasil koordinasi dengan Disnakertrans NTB serta laporan resmi dari kementerian terkait menunjukkan kondisi warga NTB terpantau baik dan tidak berada di zona konflik langsung.
“Berdasarkan koordinasi terakhir Disnakertrans NTB dengan BP2MI, seluruhnya dilaporkan dalam kondisi baik dan tidak berada pada zona terdampak langsung konflik. Mereka terus dipantau oleh KBRI dan KJRI sesuai wilayah penempatan,” ujar Ahsanul Khalik di Mataram, Selasa (3/3/2026).
155 PMI NTB di Timur Tengah: Tetap Bekerja, Tetap Dipantau
Di balik angka yang disebut pemerintah, ada cerita tentang orang-orang yang tetap menjalani rutinitasnya jauh dari rumah: bekerja, menyelesaikan tugas, dan bertahan pada jadwal harian yang tidak selalu mudah.
Berdasarkan data BP2MI, Pemprov NTB mencatat terdapat 155 PMI asal NTB berada di kawasan Timur Tengah. Mereka terdiri dari 86 laki-laki dan 69 perempuan, berasal dari berbagai kabupaten dan kota di NTB.
Pemprov menegaskan pemantauan dilakukan melalui jalur resmi, terutama melalui KBRI dan KJRI di negara penempatan. Bagi keluarga di NTB, kalimat “dipantau” sering menjadi penguat: setidaknya ada mata yang melihat, ada jalur komunikasi yang berjalan, ada negara yang hadir.
1.415 Berangkat Sejak 19 Februari, 1.372 Masih di Saudi: Umrah Berjalan Normal
Sementara itu, di sisi lain, ribuan warga NTB sedang menunaikan ibadah umrah. Di momen yang seharusnya penuh ketenangan, kabar konflik membuat sebagian keluarga di Tanah Air merasa deg-degan—bukan karena ibadahnya, tapi karena perjalanan pulang yang kadang bisa berubah jadwal.
Pemprov NTB mencatat berdasarkan data resmi Kementerian Haji dan Umroh NTB per 2 Maret 2026, sebanyak 1.415 orang telah diberangkatkan menuju Jeddah sejak 19 Februari 2026 hingga awal Maret 2026.
Keberangkatan dilakukan melalui Bandara Lombok dengan skema penerbangan sesuai jadwal masing-masing penyelenggara. Dari total itu:
-
43 orang sudah kembali ke Indonesia,
-
dan 1.372 jemaah masih berada di Arab Saudi.
Pemprov memastikan seluruh jemaah tersebut dilaporkan aman dan sedang menjalankan ibadah umrah.
Kepulangan Mulai 7 Maret 2026: Doa yang Sama dari Mataram sampai Makkah
Bagi jemaah, umrah selalu menjadi perjalanan yang dipenuhi doa. Tapi bagi keluarga di rumah, doa yang sama juga dipanjatkan: semoga kepulangan lancar.
Pemerintah daerah menyebut kepulangan jemaah umrah berikutnya dijadwalkan mulai 7 Maret 2026, mengikuti masa tinggal program umrah yang rata-rata berlangsung 9 sampai 12 hari.
“Kita doakan kepulangan jamaah umrah ini pada saatnya nanti lancar dan tidak terkendala,” ujar Ahsanul.
Kalimat itu sederhana, tetapi bagi banyak keluarga, rasanya seperti pegangan: bahwa kepulangan tetap disiapkan, tetap dipantau, tetap ada rencana yang berjalan.
Pemprov Siapkan Koordinasi Cepat, Warga Diimbau Tenang
Pemprov NTB menyatakan telah menyiapkan mekanisme koordinasi cepat jika situasi berkembang dan membutuhkan langkah perlindungan lebih lanjut. Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tidak terpancing informasi yang tidak jelas sumbernya.
“Pemerintah Provinsi NTB mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan hanya merujuk pada informasi resmi,” kata Ahsanul.
Di Atas Angka, Ada Rasa Lega
Hari ini, angka yang disebut pemerintah—155 PMI dan 1.372 jemaah umrah yang masih berada di Arab Saudi—bukan sekadar data. Bagi keluarga di NTB, angka itu adalah nama-nama: ayah, ibu, anak, saudara, tetangga, teman satu kampung.
Dan ketika Pemprov mengatakan “aman”, yang ikut turun bukan hanya ketegangan di layar ponsel, tetapi juga beban di dada banyak orang yang sejak beberapa hari ini menunggu kabar baik.
Di tengah gejolak yang jauh, NTB menjaga satu hal yang paling penting: kabar tentang keselamatan warganya.