| 111 Views

Derita Sudan Dan Gaza, Nestapa Bagi Dunia Islam

Oleh: drh. Siska Pratiwi

Sengitnya perebutan kekuasaan antara militer pemerintah (Sudanese Armed Forces/SAF) dan kelompok paramiliter (Pasukan Dukungan Cepat/Rapid Support Forces/RSF) telah membuat sudan terjerumus dalam perang saudara sejak april 2023. Perang saudara ini merupakan bagian dari episode peristiwa kudeta terhadap Presiden Omar al-Bashir 2019 lalu, dimana sebelumnya pimpinan SAF yakni Abdel Fattah al-Burhan dan pimpinan RSF yakni Mohamed Hamdan Dagalo (Hemedti) merupakan sekutu dalam aksi kudeta pemerintahan. Usai peristiwa kudeta, keduanya berubah menjadi musuh yang saling berselisih (BBC News Indonesia, 6/11/2025).

Menurut data, sekurangnya 150 ribu orang telah tewas, 14 juta orang mengungsi, dan 24 juta orang yang bertahan di Sudan menderita kelaparan sejak perang saudara berlangsung. Angka ini masih terus bertambah. Ironisnya bahkan, citra satelit Lab. Universitas Yale, AS, mendapati 31 titik diduga lokasi pembantaian masal yang ditandai semburat merah darah jejak pembantaian RSF di kota Al-Fashir, Sudan (Kompas.id, 5/11/2025).

Adapun gaza, kondisinya masih memprihatinkan sekalipun mulai senyap dari riuh pemberitaan. Gencatan senjata yang telah berulang kali disepakati dan bahkan diperantarai pihak ketiga nyatanya tak benar-benar menjadi solusi yang menghentikan penderitaan di sana. 

Dikutip dari Al Jazeera, sejak gencatan senjata yang terbaru diumumkan pada 10 oktober 2025 yang lalu, tercatat telah terjadi pelanggaran gencatan senjata oleh zionis sebanyak 591 kali pelanggaran (data 10 oktober - 29 november). Zionis telah melakukan pelanggaran selama 41 dari 52 hari gencatan senjata tersebut, artinya hingga 29 november hanya 11 hari yang tanpa adanya laporan serangan. 

Bahkan, gencatan senjata tidak benar-benar menjadikan akses bantuan bisa "bernafas lega". Ismail Al-Thawabteh, Kepala Kantor Media Pemerintah Gaza, mengatakan kepada Anadolu (24/11) bahwa realitanya zionis hanya mengizinkan kurang dari 1/3 bantuan yang dibutuhkan penduduk Gaza. Dari 600 truk bantuan per hari yang disepakati di awal gencatan senjata, hanya kurang dari 200 truk yang berhasil masuk. Alhasil, zionis masih terus "mengelola" kelaparan di Gaza secara perlahan dan bertahap.

Peristiwa yang menimpa rakyat Sudan dan Gaza semestinya membuka mata dunia, bahwa selalu ada intervensi pihak berkepentingan yang menghendaki terjadinya peristiwa berdarah demi memuluskan rencananya. 

Konflik kepentingan para elit berkuasa yang dilatarbelakangi ambisi untuk menguasai sumber daya alam di Sudan, misalnya, telah mengorbankan hajat hidup rakyat sipil yang didominasi masyarakat muslim dan etnis lewat perang saudara. Hal serupa juga telah terjadi pada tragedi Perang Irak (2003) yang didalangi oleh AS. Di lain tempat, AS bersama Inggris dan negara-negara suporter zionis lainnya dengan angkuh terus menyuplai dukungan baik fisik maupun non-fisik untuk merampas Palestina (Gaza khususnya) melalui pendudukan dan genosida. Ironisnya, AS yang turut menjadi dalang kekacauan kerap menggunakan "topeng pahlawan" untuk mengelabui penilaian dunia dan menyamarkan wajah aslinya yang bengis.

Tragedi di Sudan dan Gaza, telah menimbulkan penderitaan bagi rakyat sipil dan nestapa bagi dunia islam, sekalipun bentuk konfliknya berbeda. Keduanya benar-benar membutuhkan perhatian kita. Dengan bijak membaca akar permasalahan yang menimpanya, akan mengarahkan kita pada suara aksi dan langkah gerak yang lebih membekas. Memang benar, dorongan kemanusiaan berhasil menjadi bahan bakar kepedulian pada derita sesama. Namun, sebagai seorang muslim, dorongan keimanan/akidah harus melengkapi panggilan kemanusiaan tersebut.

WalLahu a'lam bi ash-shawab


Share this article via

29 Shares

0 Comment