| 13 Views
Derita Korban Bencana Sumatera, Saat Suasana Lebaran
Korban bencana Sumatera. (foto:cnn/reuters)
Oleh : Cokorda Dewi
Berita kontradiktif tentang kondisi korban bencana Sumatera menyeruak di berbagai media sosial. Ada yang menyampaikan sudah 100 persen pulih kondisi di daerah bencana, dan ada penyintas bencana yang menyampaikan kebalikannya.
Menjelang perayaan Idul Fitri, sejumlah penyintas bencana dikabarkan masih bertahan di tenda-tenda darurat. Sebab pembangunan Hunian Sementara (Huntara) yang dijanjikan pemerintah belum selesai (jawapos.com, 20-03-2026).
Kisah pilu penyintas bencana banjir dari Kabupaten Bireuen, yang terpaksa tinggal di kantor TK Bale Panah. Setelah tenda pengungsian tempat tinggal mereka pasca bencana dibongkar oleh pihak BNPB, tepatnya seminggu sebelum lebaran. Padahal mereka ada yang belum menerima bantuan apapun, yaitu bantuan berupa Dana Tunggu Hunian (DTH), Jaminan Hidup (Jadup), serta bantuan sosial lainnya (waspada.id, 30 Maret 2026).
Empat bulan pascabanjir besar, sebagian warga Geudumbak Aceh Utara masih bertahan di tenda darurat. Mereka masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Tidak dapat merasakan suasana hari raya yang hangat seperti sebelumnya. Mereka berlebaran di tenda pengungsian, dan masih menunggu bantuan pemerintah yang tak kunjung datang hingga memasuki hari raya Idul Fitri (nu.or.id, 25-03-2026).
Pernyataan Presiden Prabowo bahwa proses pemulihan pasca bencana telah mencapai hampir 100 persen di wilayah Aceh. Tidak ada lagi yang tinggal di tenda pengungsian, karena sudah menempati hunian sementara maupun hunian tetap. Bahkan beliau menyampaikan, bahwa pasokan listrik di Aceh telah pulih hampir sepenuhnya.
Namun pernyataan ini ditanggapi berbeda oleh ulama dan pengurus Nahdlatul Ulama di daerah. Rais Syuriah PCNU Aceh Tamiang, Tgk Mustofa Abdussalamsyah, menyampaikan, bahwa realitas kondisi di wilayah terdampak bencana ada sekitar 70 persen warga masih terlantar (nu.or.id, 24-03-2026).
Hal ini menggambarkan, betapa buruknya kualitas informasi yang sampai pada presiden. Sehingga apa yang disampaikan oleh presiden, tidak sinkron dengan kenyataan yang ada.
Beginilah jika yang diterapkan sistem sekuler kapitalis. Lebih mengutamakan asas manfaat dan keuntungan pribadi atau kelompok, meskipun harus mengabaikan kepentingan orang banyak. Sehingga nampak bekerja asal bapak senang.
Padahal seorang pejabat maupun pemimpin memiliki amanah yang besar dalam meriayah atau mengurusi rakyatnya. Bahwa kelak mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas amanahnya tersebut. Rosulullãh bersabda
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Dalam pandangan Islam, negara dalam sistem Islam adalah sebagai ra'in (pemimpin yang bertanggungjawab) dan junnah (pelindung atau perisai). Negara tidak akan membiarkan ada rakyatnya yang kesusahan di hari kemenangan umat muslim (Idul Fitri). Para penyintas bencana merupakan tanggung jawab negara. Maka negara tidak akan membiarkan rakyatnya dalam kesusahan yang berkepanjangan. Negara akan mengerahkan kemampuannya untuk memulihkan keadaan pasca bencana, dan menjamin hidup para penyintas bencana hingga keadaannya bisa normal kembali.
Negara dalam sistem Islam pastinya akan segera melakukan pemulihan keadaan wilayah bencana, sehingga tak nampak lagi puing-puing jejak bencana. Semua dana yang dibutuhkan untuk pemulihan wilayah bencana maupun para penyintas bencana, diambilkan dari baitul mal. Negara akan memastikan rakyatnya bisa berhari raya dengan bahagia, hingga bisa mengurangi rasa trauma atau beban psikoligis pasca bencana. Negara tidak akan meninggalkan rakyatnya dalam keadaan kesusahan. Sebab seorang pemimpin yang taqwa, takut kepada Allah, tidak akan menelantarkan rakyatnya. Karena menelantarkan rakyatnya sama saja dengan kezaliman, yang merupakan dosa besar.
"Tidaklah seorang pemimpin yang mengurusi urusan kaum muslimin, lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak tulus pada mereka, kecuali ia tidak akan masuk surga bersama mereka” (HR. Imam Muslim).
Wallahu'alam bishshowab.