| 389 Views

Deflasi Tanda Ekonomi Merosot Rakyat Makin Tak Sejahtera

Oleh : Rifdatul Anam

Saat ini Indonesia tengah mengalami deflasi selama lima bulan beruntun. Deflasi merupakan kondisi di mana harga sejumlah barang dan jasa mengalami penurunan. Istilah deflasi merupakan kebalikan dari inflasi ketika harga-harga produk mengalami kenaikan. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi 0,12% pada September 2024. Ini adalah deflasi kelima berturut-turut selama 2024 dan menjadi yang terparah dalam lima tahun terakhir pemerintahan Presidan Joko Widodo, menurut Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti. (BBC, 04-10-2024)

Sekilas terdengar, deflasi adalah kabar gembira di tengah masyarakat, karena dapat membeli barang dan jasa dengan harga yang terjangkau. Begitu pun pedagang, yang seharusnya senang dengan minat belanja konsumen yang meningkat. Tapi hal tersebut berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan, turunnya harga tidak sejalan dengan meningkatnya daya beli masyarakat, yang ada  daya beli masyarakat semakin melemah.

Lemahnya daya beli masyarakat, terutama kelas menengah ini menandakan perekonomian negara sedang tidak baik-baik saja. Meskipun pada awalnya penurunan harga dapat terasa menguntungkan bagi konsumen, tetapi dalam jangka panjang deflasi dapat membawa dampak bagi perekonomian secara keseluruhan. Mengapa demikian?

Turunnya daya beli masyarakat pasti ada penyebabnya, diantaranya masyarakat dikalangan pekerja tidak lagi memiliki uang untuk berbelanja akibat dari pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran di berbagai sektor. Akibatnya, banyak usaha kecil dan menengah (UMKM) mengeluh karena sepinya pelanggan. Jika hal ini dibiarkan terus menerus akan memunculkan resesi, penurunan aktivitas bisnis, gelombang PHK, sampai peningkatan resiko gagal bayar utang.

Dan juga, selama ini konsumsi dalam rumah tangga merupakan penopang sebagian besar kinerja perekonomian Indonesia. Ketika pendapatan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan membeli barang dan jasa, maka rumah tangga akan menahan daya belinya walaupun harga barang dan jasa mengalami penurunan. Dampaknya akan berimbas bagi kesejahteraan anggota keluarga.

Jika dalam memenuhi kebutuhan pokok (sembako) rumahtangga saja mengurangi konsumsinya, apalagi mengeluarkan biaya untuk pendidikan dan kesehatan. Bisa-bisa mereka mengabaikan akan pentingnya pendidikan dan kesehatan, mengingat mahalnya biaya tersebut. Dan ini akan mempengaruhi kualitas generasi yang akan dihasilkan.

Deflasi yang terus terjadi selama 5 bulan berturut2 merupakan indikasi pemerintah tidak mampu mengatasi penurunan daya beli masyarakat. Selama negara ini masih menerapkan sistem ekonomi kapitalisme, maka krisis demi krisis akan selalu muncul dan terus berulang. Sudah seharusnya sistem yang telah rusak ini diganti dengan sistem Islam yang dapat memberikan kesejahteraan dan kemaslahatan.

Sistem Islam memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok keluarga, mulai sandang, pangan dan papan. Dan memastikan semua lapisan masyarakat akan selalu mampu mengaksesnya, baik secara tidak langsung maupun secara langsung. Tak luput juga negara menjamin layanan pendidikan dan kesehatan untuk setiap individu, yang dengannya akan menentukan kualitas generasi.

Negara dengan penerapan sistem Islam secara kaffah akan memungkinkan terwujudnya kesejahteraan rakyat individu per individu. Pemimpin sejatinya bukanlah penguasa, melainkan pelayan masyarakat yang selalu mengutamakan kejujuran dan amanah. Keputusannya didasarkan pada prinsip-prinsip Islam, dan ia senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai agama.
Rasulullah saw bersabda,
" Imam (khalifah) itu pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari dan Ahmad).

Sistem ekonomi Islam telah menetapkan sumber  pemasukan negara dengan pengelolaan sumber daya alam secara mandiri. Kemandirian pengelolaan ini akan membuka lebar lapangan pekerjaan, sehinga tidak ada rakyat yang mengeluh karena sulitnya mendapatkan pekerjaan. Dengan adanya pekerjaan dan pendapatan yang tetap, masyarakat dapat memenuhi semua kebutuhan pokoknya, serta berbelanja barang dan jasa yang sesuai keperluan. Negara dengan penerapan sistem ekonomi Islam akan mampu memenuhi kebutuhan pokok rakyat, tanpa menggantungkan pada utang dan pajak sebagaimana negara kapitalisme.
Wallahu'alam  bishawab.


Share this article via

133 Shares

0 Comment