| 75 Views

Dari Ejekan Menjadi Api dan Ledakan: Wajah Gelap Pendidikan Sekuler

Ilustrasi kebakaran.(Shutterstock/Fernando Astasio Avila)

Oleh : Elvana Oktavia, S. Pd

Indonesia kembali digentarkan oleh sebuah kasus tragis di lingkungan pendidikan. Di Aceh Besar, sebuah asrama pesantren menjadi lokasi kejadian memilukan ketika salah satu santri membakar tempat tersebut. Motifnya diduga karena tidak mampu menahan luka hati akibat menjadi korban perundungan (bullying). Ia mengaku sering diejek dan diperlakukan kasar oleh teman-temannya. Karena tekanan yang berat, ia kehilangan kendali dan akhirnya melakukan tindakan nekat dengan membakar asrama tempatnya belajar. (beritasatu.com, 8/11/2025) 

Peristiwa ini bukanlah satu-satunya. Tak lama berselang, masyarakat kembali digemparkan oleh ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta, yang diduga dilakukan oleh seorang siswa yang juga seringkali menjadi sasaran perundungan. Sejumlah saksi menyebut bahwa siswa itu dikenal pendiam, tidak banyak bergaul, dan kerap menjadi sasaran olokan. Beban sosial yang ia alami diduga mendorongnya nekat melakukan tindakan berisiko yang mengancam keselamatan banyak orang. (kumparan.com, 7/11/2025) 

Dua kasus ini menunjukkan pola yang serupa: akibat luka batin karena perundungan yang telah lama dipendam, mereka bisa berubah menjadi pelaku tindakan berbahaya. Dahulu, para korban cenderung meluapkannya dengan cara menyakiti diri sendiri, bahkan hingga melakukan bunuh diri. Namun, kini sebagian dari mereka mulai mengalihkan rasa marah dan dendamnya melalui tindakan-tindakan merusak (destruktif), seperti membakar, meledakkan, dan mengancam keselamatan orang lain.

Bullying sebagai Problem Sistemik

Peristiwa perundungan seperti ini bukanlah suatu hal yang baru. Hampir setiap tahun selalu saja ada laporan tentang siswa yang mengalami pemukulan, penghinaan, pemaksaan, atau dipermalukan oleh teman-temannya, bahkan oleh tenaga pendidik. Kasus bullying terjadi di sekolah negeri, sekolah swasta, ataupun di institusi pendidikan Islam.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan moral individu, tetapi merupakan sebuah gejala sosial yang bersifat sistemik. Artinya, praktik bullying tumbuh dan berkembang dalam sebuah tatanan kehidupan yang keliru, yaitu sistem yang gagal menanamkan nilai adab, empati, dan tanggung jawab secara mendalam. Sistem pendidikan sekuler-kapitalistik cenderung mengutamakan capaian akademik dan nilai ujian sebagai tolok ukur utama keberhasilan. Siswa yang berprestasi secara akademik dipandang sukses, sementara mereka yang tidak mengikuti ritme tersebut dianggap gagal. Akibatnya, sekolah lebih menyerupai ladang kompetisi ketimbang pembentukan karakter. Guru lebih berfungsi sebagai penyampai materi dibandingkan dengan pembinaan aspek kepribadian siswa.

Akibatnya, anak-anak tumbuh mengejar orientasi nilai, bukan makna. Mereka melihat teman bukan sebagai saudara seperjuangan dalam menuntut ilmu, tetapi sebagai pesaing yang harus dikalahkan. Dalam suasana seperti ini adalah suatu kewajaran bagi mereka seperti ejekan, penghinaan, dan perundungan yang dianggap sebagai “hiburan”.

Pendidikan Sekuler: Mencetak Generasi Cerdas tapi Rusak

Jika ditelaah lebih jauh, akar dari semua ini terletak pada sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang diterapkan di negeri ini. Sistem tersebut memisahkan nilai agama dari berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan.

Sistem sekuler menjadikan tujuan pendidikan bukanlah membentuk manusia berkepribadian mulia, melainkan mencetak tenaga kerja yang produktif secara ekonomi. Kurikulum lebih difokuskan pada pencapaian kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar, bukan pada pengembangan dan kesempurnaan akhlak. Anak-anak dipersiapkan untuk menjadi "pekerja sukses", bukan "manusia beradab". Mereka hanya diajarkan sebatas ilmu pengetahuan dunia agar cerdas secara intelektual saja, namun minim dalam hal spiritual. Sehingga tidak memahami bagaimana makna hidup dan tanggung jawab mereka sebagai hamba Allah. Akibatnya, jiwa mereka menjadi kosong, tidak tahu bagaimana cara menghormati orang lain dan tidak paham empati. 

Dalam kondisi seperti ini, ketika para remaja berhadapan dengan tekanan sosial, ejekan, atau perlakuan merendahkan, mereka tidak memiliki fondasi akidah dan kepribadian Islam yang kokoh untuk menahan diri. Kemarahan dan dendam menjadi jalan paling mudah yang mereka pilih, meskipun hal itu dapat berujung pada tindakan destruktif.

Situasi ini menjadi lebih parah karena negara yang seharusnya sebagai pihak yang bertanggung jawab utama dalam pendidikan, tidak menjalankan peran moral dan ideologisnya dengan baik. Negara hanya mengatur aspek administratif dan teknis pendidikan, seperti gaji guru, fasilitas sekolah, dan kurikulum akademik, namun pembinaan kepribadian dan moral siswa terabaikan. Kementerian Pendidikan seringkali hanya merespons kasus bullying dengan imbauan dan seminar, tanpa melakukan perubahan sistemik yang signifikan. Tidak ada upaya serius untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam pendidikan secara komprehensif.

Solusi Islam Atasi Masalah Perundungan

Karena itu, pendekatan yang parsial tidak akan cukup jika ingin benar-benar dapat keluar dari siklus kelam perundungan, kekerasan remaja, dan kemerosotan moral. Diperlukan sebuah sistem yang komprehensif yang mampu menjamin keamanan, pendidikan, dan pembinaan akhlak secara bersamaan. Dalam sistem Islam, negara memiliki tanggung jawab besar dalam menjamin pendidikan yang benar, menjamin terjaganya moral masyarakat, dan menjamin terlindunginya setiap individu dari segala bentuk kezaliman sosial.

Dengan penerapan syariat Islam secara menyeluruh, negara tidak hanya berperan sebagai pengelola, tetapi juga sebagai penjaga generasi, pelindung masyarakat, dan penegak keadilan.


Share this article via

39 Shares

0 Comment