| 55 Views

Cerminan Krisis Akhlak dalam Pendidikan Sistem Sekuler

Ilustrasi Bullying. Foto: Getty Images/iStockphoto/gan chaonan

Oleh: Desviana N
Komunitas Pemuda Bersuara

Kasus perundungan kembali mengguncang Kabupaten Boyolali. Seorang siswa kelas IV SD di Kecamatan Sambi berinisial AN diduga menjadi korban kekerasan di lingkungan sekolah hingga mengalami koma. Bocah malang itu kini dirawat intensif di RSUD dr. Sardjito Yogyakarta setelah mengalami pembengkakan dan pendarahan otak akibat benturan benda tumpul. Peristiwa tragis itu terjadi pada Sabtu, 18 Oktober 2025.

Menurut keterangan kuasa hukum keluarga, korban sempat enggan berangkat sekolah karena merasa takut. Kemudian, sekitar pukul 09.30 WIB, pihak sekolah mengabari bahwa AN sakit dan tidak sadarkan diri. Setelah dibawa ke rumah sakit setempat, ia akhirnya dirujuk ke Sardjito karena kondisinya kritis.

Keluarga mengungkap bahwa AN sering mengalami perundungan oleh teman sekelasnya dan telah berulang kali melaporkan hal itu kepada pihak sekolah. Namun, laporan tersebut hanya dianggap sebagai kenakalan biasa. Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait dugaan kekerasan tersebut (espos.id, 28 Oktober 2025).

Peristiwa ini membuka mata masyarakat bahwa sekolah, yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu dan menumbuhkan karakter, justru menjadi arena kekerasan fisik dan mental. Kasus perundungan AN di Boyolali bukanlah yang pertama. Selain itu, kasus ini menambah deretan potret buram dunia pendidikan. Nilai-nilai kemanusiaan dan moral seolah terpinggirkan oleh sistem yang menekankan prestasi akademik semata.

Pendidikan Akhlak Hanya Formalitas

Anak-anak tumbuh dalam lingkungan kompetitif, sementara pendidikan akhlak hanya sebatas formalitas dalam pelajaran agama. Di sisi lain, pengawasan moral di rumah melemah karena banyak orang tua sibuk bekerja demi kebutuhan ekonomi. Akibatnya, sekolah kehilangan fungsinya sebagai madrasah pembentuk kepribadian. Kini sekolah berubah menjadi tempat yang dingin dan kering dari kasih sayang, bahkan menjadi sarang kekerasan terselubung.

Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi maraknya kasus perundungan di kalangan pelajar. Pertama, krisis keteladanan, di mana anak kehilangan figur panutan di rumah maupun sekolah sehingga meniru perilaku negatif dari media sosial dan lingkungan. Kedua, minimnya pendidikan akhlak karena kurikulum modern lebih fokus pada aspek kognitif daripada pembentukan karakter Islami. Ketiga, lingkungan sosial yang keras, di mana budaya kekerasan yang ditampilkan di media membuat anak menilai bahwa menghina atau menyakiti orang lain adalah hal biasa. Keempat, lemahnya sistem perlindungan anak karena sekolah sering kali menutupi kasus perundungan demi menjaga citra, bukan melindungi korban.

Sistem Pendidikan Islam Membentuk Insan yang Beriman

Islam menawarkan solusi menyeluruh untuk mencegah dan menanggulangi perundungan, bukan hanya dari sisi moral individu, tetapi juga melalui pembenahan sistem kehidupan. Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan sekadar mencetak manusia cerdas, tetapi melahirkan generasi beriman dan berakhlak mulia. Untuk itu, ada tiga pilar utama:

1. Keluarga sebagai pondasi utama.
Orang tua wajib menanamkan adab, empati, dan kasih sayang sejak dini. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang ayah memberikan pemberian yang lebih utama kepada anaknya selain akhlak yang baik” (HR. Tirmidzi).

2. Sekolah sebagai pembentuk karakter Islami.
Kurikulum pendidikan harus menanamkan nilai-nilai tauhid, ukhuwah, dan tanggung jawab sosial. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga teladan moral bagi muridnya.

3. Negara sebagai pelindung masyarakat.
Dalam sistem Islam, negara wajib menegakkan aturan yang melindungi anak-anak dari kekerasan serta menciptakan lingkungan sosial yang mendorong kebaikan dan keadilan.

Tragedi perundungan di sekolah menjadi alarm keras bagi masyarakat bahwa kerusakan moral generasi bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga cermin kegagalan sistem yang tidak berlandaskan nilai-nilai ilahi. Selama pendidikan hanya diukur dari prestasi akademik dan bukan dari pembentukan akhlak, kasus-kasus kekerasan seperti ini akan terus berulang.

Hanya dengan menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan dan pendidikan, akan lahir generasi yang berilmu sekaligus beradab—anak-anak yang menghormati sesama, mencintai kebenaran, dan takut berbuat zalim.


Share this article via

13 Shares

0 Comment