| 199 Views

Cermin Krisis Moral dan Pendidikan Kapitalisme

Oleh : Mila Ummu Azzam

Viralnya kasus-kasus dalam dunia pendidikan sungguh sangat meresahkan. Sebenarnya ada apa dalam dunia pendidikan saat ini? Tak ada lagi kata dalam benak murid bahwa seeorang guru merupakan teladan baginya. Saat ini, ketika tak terima ditegur atau dihukum, seorang murid dengan gampangnya melawan bahkan melaporkan ke polisi.

Baru-baru ini terjadi, seorang kepala SMA Negeri 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, Dini Fitri, sempat dilaporkan ke polisi oleh orang tua murid lantaran menegur dan menampar seorang murid yang ketahuan merokok di lingkungan sekolah dan berbohong bahwa dirinya merokok. Namun, masalah ini telah diselesaikan secara damai, orang tua murid mencabut laporannya.

Lalu, tersebarnya sebuah foto seorang siswa SMA Makasar berinisial AS, yang duduk disamping gurunya, dan dengan santainya merokok sambil mengangkat kakinya ke atas meja. Ambo, sang guru mengaku tidak sadar bahwa muridnya memegang rokok dan dilema untuk menegur muridnya secara tegas karena takut melanggar HAM.

Masalah merokok saat ini memang sudah menjadi hal yang biasa dikalangan generasi muda. Merokok bagi mereka melambangkan kedewasaan tanpa tahu akibat yang ditimbulkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 15 juta remaja berusia 13--15 tahun di seluruh dunia menggunakan rokok elektrik atau vape. 

Insiden ini bukan sekadar cerita tentang kenakalan remaja, melainkan sebuah dilema besar yang dihadapi para pendidik di era modern. Menggambarkan bahwa rumitnya posisi pendidik saat ini, jika menegakkan pendisiplinan, para pendidik takut tindakannya disalahartikan dan berujung pada sanksi, tapi jika dibiarkan siswa akan merasa punya kebebasan untuk bertindak di luar batas etika, sementara guru merasa tak berdaya. 

Pengambilan sikap berbeda pada satu masalah yang sama menjadikan adanya ruang tidak jelas dalam penerapan disiplin siswa dan tergerusnya wibawa guru. Hal ini dapat menghilangkan makna pendidikan yang berperan besar dalam membentuk karakter generasi. Tidak dibenarkan juga adanya bentuk kekerasan dalam pendidikan. Maka butuh pendidikan yang menjadikan remaja paham siapa dirinya dan arah hidupnya. 

Namun, dalam sistem pendidikan sekuler  kapitalisme saat ini, sangat sulit menjadi pendidik yang baik, guru memiliki beban yang berat dan tak ada naungan yang dapat diandalkan. Sehingga, guru hanya  menjalankan perannya sebagai pengajar bukan pendidik, dan menjadikan guru abai. Tidak ada jaminan dari negara agar fungsi guru sebagai pendidik dapat terlaksana dengan baik tanpa ada pihak yang mengintimidasi guru. 

Ketika peran guru tak berjalan dengan baik, akan tercetak pribadi yang pembangkang, berbuat semaunya dan kerap berperilaku buruk. Sistem ini juga  memberikan ruang kebebasan, tak ada pembatas bagi peserta didik. Mereka dapat dengan mudah mengakses berbagai konten yang tidak mendidik. Maka terjadilah kerusakan moral yang luar biasa.

Sistem sekuler kapitalisme terbukti gagal mencetak generasi yang bertakwa dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, krisis adab peserta didik saat ini harus diselesaikan secara tuntas yaitu dengan sistem Islam. Sehingga tertanamkan kembali nilai-nilai fundamental sopan santun dan rasa hormat kepada guru. Karena diantara yang menyebabkan berkahnya ilmu adalah adab kepada guru dan memuliakannya.

Dalam Islam, guru merupakan pilar peradaban, menempati posisi penting yang harus dihormati dan dimuliakan, karena memiliki peran besar dalam pembentukan karakter dan kepribadian murid. Guru bukan hanya mentransfer ilmu akademik tapi juga memberikan pendidikan soal iman dan akhlak. Fasilitas dan pelayanan kepada seorang guru dalam islam selalu memadai, sehingga guru hidup sejahtera dan fokus dalam memberikan pendidikan.

Tujuan dalam pendidikan Islam adalah membentuk kepribadian siswa agar mempunyai pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan akidah Islam. Untuk itu, kurikulum yang ditetapkan mengarahkan pada upaya untuk mencapai tujuan pendidikan, yang dapat melahirkan generasi-generasi yang sadar akan hubungannya dengan Allah Swt, sebagai kontrol terbaik atas setiap perbuatan, yang akan mendorong ketakwaan individu.

Dan ketika generasi telah mempunyai prinsip, perbuatan yang sia-sia pasti ditinggalkan, seperti merokok. Meskipun dalam Islam, merokok merupakan perkara mubah, tapi dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Terwujudnya hal itu hanya dengan penerapan sistem Islam secara kaffah.

Wallahu'alam bishawab.


Share this article via

76 Shares

0 Comment