| 54 Views
Bullying Tak Kunjung Selesai Dalam Sekuler Kapitalis
Oleh : Mila Ummu Azzam
Bullying di kalangan anak dan remaja masih menjadi masalah di negeri ini. Semakin hari kasusnya semakin meningkat. Bullying tidak hanya meliputi kekerasan fisik tapi juga verbal dan sosial. Anak yang kerap mengalami bullying akan memiliki emosi yang tidak stabil dan depresi yang berat.
Banyaknya tren bullying yang terjadi telah memasuki di sektor pendidikan. Kasus viral yang baru-baru ini terjadi di Pesantren Babul Maghfirah di kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Seorang santri telah mengalami bullying di asrama putra sehingga ia merasakan kesal, sakit hati dan marah. Tekanan mental yang memuncak membuat dirinya berniat membakar gedung asrama, agar barang-barang milik teman yang mengganggu dan membullyingnya ikut habis terbakar.
Kebakaran itu terjadi dini hari pada jumat, 31-10-2025. Bangunan asrama yang didominasi kayu dan triplek membuat api cepat membesar dan merambat ke kantin serta satu rumah milik yayasan. Akibat kebakaran ini kerugian mencapai Rp 2 milyar. (Kumparannews, 7-11-2025)
Sementara itu, masih pada kasus bullying, siswa kelas 12 SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, diduga melakukan peledakan pada sekolahnya pada saat rangkaian shalat jumat tanggal 7-11-2025. Siswa yang menjadi korban bullying ini mencoba membalas dendam. Pelaku juga mengalami luka-luka karena memcoba bunuh diri. Akibat ledakan ini, total ada 96 orang korban, 29 diantaranya masih dirawat di 3 rumah sakit.
Dari semua kasus yang terjadi, bullying tidak bisa dianggap sebagai masalah yang sepele. Jika dibiarkan, bullying akan tumbuh subur di lingkungan sosial yang tidak sehat. Apalagi jika dilihat dengan teliti ada yang salah dengan sistem pendidikan kita, anak-anak didik saat ini sedang mengalami krisis adab dan nirempati.
Belum lagi, adanya pengaruh media sosial yang memperparah tindakan bullying para pelakunya. Mereka menganggap bullying hanyalah candaan belaka, dan tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan dapat menjatuhkan dan mempermalukan orang lain, dan di balik itu, ada resiko fatal yang akan dialami korban bullying.
Seseorang yang menjadi korban bullying akan merasa sendiri dan menanggung beban mental akibat di bully, ia tidak berani mengungkapkan keluh kesah yang terjadi padanya karena lingkungan tak memiliki kepedulian. Korban bullying pun menyimpan rasa dendam dan melampiaskan kemarahan dengan melakukan tindakan yang dapat membahayakan nyawa.
Menggejalanya kasus bullying di berbagai daerah bukti problem sistemik dalam dunia pendidikan. Tidak ada solusi pasti dalam penyelesaiannya. Apalagi pendidikan yang berjalan saat ini masih memakai sistem sekuler kapitalisme yang memisahkan agama dalam kehidupan, tak ada aturan agama yang mengikat, dan memandang sekolah hanya sebagai komoditas yang menghasilkan materi.
Sistem ini memberikan kebebasan yang dibalut dengan hak asasi manusia (HAM) kepada setiap individu untuk berekspresi semaunya. Jadi ketika seseorang melakukan bullying hanya disangka permainan, bukan kesalahan dan kejahatan, sehingga menormalisasi hal tersebut. Tidak ada sanksi khusus untuk pelaku bullying yang membuat jera. Kebijakan yang diberikan dalam sistem sekuler kapitalis hanya solusi tambal sulam.
Sistem ini terbukti gagal dalam menyelesaikan persoalan bullying. Sistem sekuler kapitalis tak mampu membentuk kepribadian islam dalam setiap individu, menjadikan generasi rapuh, kehilangan arah dan tujuan, tak ada nilai moral dan tak memahami arti kehidupan. Jelaslah sistem yang rusak dan merusak ini telah membawa manusia pada keburukan dan kesedihan disemua aspek kehidupan.
Bullying dapat teratasi dengan menerapkan sistem Islam bukan sistem sekuler kapitalis. Sistem Islam mempunyai seperangkat aturan yang mampu menjaga dan melindungi generasi dari kerusakan dan perilaku buruk, yaitu dengan menanamkan akidah, menerapkan syariat serta menetapkan sanksi yang tegas. Hal itulah yang akan dilaksanakan seorang pemimpin dalam negara Islam, karena pemimpin adalah orang yang yang mengurus rakyat.
Rasulallah Saw bersabda,
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam (kepala negara/penguasa) adalah pemimpin atas rakyatnya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya." (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim).
Selain itu, dalam sistem Islam peran orang tua juga sangat penting. Keluarga adalah madrasah pertama dalam pendidikan anak, pengarah dan pelindung anaknya, bukan hanya sekedar mencari nafkah. Pendidikan sejak dini akan membuat anak mengenal Allah yang menciptakan kehidupan, yang wajib di sembah dan ditaati perintah-Nya. Ditambah sistem pendidikan islam yang membentuk kepribadian Islam, menjadikan anak memiliki pola pikir dan pola sikap islam yang taat dan berakhlak mulia.
Masyarakat yang turut berperan dalam mengawasi dan melakukan amar ma'ruf nahi mungkar, akan menciptakan suasana yang aman di sekitar lingkungan. Sehingga hal itu dapat menekan bertambahnya aksi bullying. Lengkapnya mekanisme dalam sistem Islam ini akan menciptakan kebaikan bagi manusia dan seluruh alam. Karena aturan yang dipakai adalah aturan dari sang Pencipta Alam, yaitu Allah SWT.
Wallahu'alam bishawab.