| 34 Views

Bullying, Ancaman Nyata Dunia Pendidikan Dibalik Janji Manis Kapitalisme

Oleh: Ummu Saibah
Sahabat Cendikia Pos

Sungguh Miris mendengar berita dari dunia pendidikan akhir-akhir ini. Di Aceh seorang santri yang masih di bawah umur nekad membakar asrama pondok pesantren tempat ia menimba ilmu lantaran sakit hati karena sering dibully oleh teman-temannya. (Kumparannews.com 7-11-2025).

Sementara  seorang siswa kelas 12  SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, nekad meledakkan gedung sekolah tempatnya belajar, pelaku diduga menjadi korban bullying. Saksi di lokasi mengatakan bahwa aksi tersebut dipicu motif balas dendam karena sering dibully dan keinginan si korban untuk bunuh diri.(Kumparannews.com 7-11-2025)

Maraknya kasus bullying yang terjadi akhir-akhir ini sangat meresahkan, selain menyebabkan korban mengalami tekanan mental berat akibat ejekan, pelecehan dan pengucilan, bullying juga memicu tindakan membabi buta atas dorongan balas dendam maupun niatan bunuh diri akibat depresi. Banyaknya kasus bullying yang terjadi di lingkungan sekolah umum dan di lingkungan pendidikan pesantren menjadi bukti bahwa sistem pendidikan yang diterapkan saat ini tidak mampu mewujudkan tujuan pendidikan. Hal ini seharusnya menjadi prioritas utama bagi negara untuk mencari akar permasalahan dan menemukan solusi untuk melindungi generasi dari degradasi moral.

 'Bullying' Problem Sistemik khas Kapitalisme

Permasalahan bullying terjadi bukan semata karena faktor kepribadian individu saja. Melainkan permasalahan sistemik yang disebabkan oleh penerapan sistem kapitalis. Pemisahan agama dari kehidupan yang menjadi dasar kurikulum pendidikan dalam sistem kapitalis memprioritaskan materi sebagai tujuan pendidikan, mengesampingkan peran agama dalam membentuk kepribadian individu, sehingga lahirlah individu yang minus akhlak, tidak mengenal adab dan kehilangan empati.

Penerapan sistem kapitalis dalam sektor ekonomi juga menyebabkan ketimpangan ekonomi dan tidak meratanya kepemilikan harta. Hal ini mengakibatkan hilangnya peran orang tua sebagai pendidik, anak tumbuh dengan pola asuh yang salah karena kedua orang tua disibukkan oleh usaha untuk mencari nafkah dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. 

 Selain itu kasus bullying juga banyak dipengaruhi oleh media sosial. Di dalam sistem kapitalis laju informasi didasarkan pada untung rugi sehingga tidak ada pengawasan dan seleksi yang ketat terkait muatan suatu tayangan. Padahal tayangan yang mengandung aksi bullying baik berupa konten, film atau sebatas hiburan menjadi ruang percontohan bagaimana aktivitas itu dilakukan, bahkan bagaimana  menyelesaikannya, banyaknya tayangan tentang bullying juga mempengaruhi penilaian kita sehingga lambat laun tanpa di sadari kita telah menormalisasi aktivitas tersebut, sebagaimana sering kita dapati suatu tindakan yang terkategori tindakan bulliying malah dijadikan candaan.

Oleh karena itu menyelesaikan permasalahan bullying harus dilakukan oleh negara sebagai institusi yang berperan penting dalam membentuk kepribadian individu melalui penerapan sistem pendidikan, negara juga mampu menstabilkan keadaan perekonomian dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembang individu.

Kepribadian islam Sebagai Tujuan pendidikan

Umat Islam memiliki teladan yang sempurna yaitu Rasulullah Saw yang diutus oleh Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak manusia. Rasulullah Saw bersabda:

 "Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia" (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu pendidikan di dalam Islam berlandaskan akidah Islam dengan tujuan untuk mencetak individu  berkepribadian islam. Karena kepribadian islam akan menghantarkan manusia pada kemuliaan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Mumtahanah: 12.

"Wahai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman dengan mengadakan janji setia kepadamu bahwa mereka tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak mereka, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan dan tidak akan mendurhakaimu dalam kebaikan, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka." 

Ayat ini menunjukkan bahwa kepribadian Islam ditandai dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta perilaku baik. Sehingga menghindarkan individu dari berbuat dzalim baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.

Proses pendidikan dilakukan dengan cara pembinaan intensif sehingga terbentuk pola pikir dan pola sikap islam. Selain memprioritaskan keimanan dan akhlak, pendidikan islam juga mendorong individu untuk memiliki ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan dunia, hal ini terbukti dengan lahirnya  para peletak dasar ilmu pengetahuan pada masa penerapan Islam atau disebut the Golden Age selain itu pendidikan Islam juga mencetak individu yang mandiri dan beramal saleh.

Oleh karena itu peran negara sangat penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan yaitu mencetak individu-individu yang berkepribadian Islam. Negara wajib menjadi penjamin utama pendidikan, pembinaan moral umat dan perlindungan generasi dari kezaliman sosial. Hal ini bisa terwujud dengan menjadikan akidah Islam sebagai dasar pendidikan. Sistem pendidikan yang berdasarkan akidah Islam merupakan satu-satunya jalan untuk melindungi generasi dari krisis moral, tindakan mendzalimi seperti _bullying_ dan sejenisnya. Negara juga berkewajiban untuk menciptakan lingkungan hidup yang kondusif untuk tumbuh kembang individu yaitu dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam setiap lini kehidupan.

Wallahu a'lam bishawab.


Share this article via

24 Shares

0 Comment