| 3 Views
Berangkat Umrah di Bulan Maret 2026 di Tengah Isu Geopolitik: Akankah Banyak Penundaan?
CendekiaPos — Pertanyaan ini sedang memenuhi grup keluarga dan WhatsApp travel: “Umrah Maret ini aman nggak? Jadi berangkat atau banyak yang ditunda?” Kekhawatiran itu wajar. Sejak eskalasi konflik di Timur Tengah memanas, sejumlah maskapai melakukan pembatalan, penundaan, dan pengalihan rute penerbangan lintas kawasan. Dampaknya langsung terasa pada arus umrah—baik keberangkatan dari Indonesia maupun kepulangan dari Arab Saudi.
Di sisi pemerintah, sinyalnya juga tegas: Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengimbau calon jemaah untuk menunda keberangkatan umrah sementara waktu sampai situasi keamanan lebih kondusif.
Indikasi kuat: penundaan memang sedang terjadi
Beberapa data lapangan memperlihatkan bahwa penundaan bukan lagi sekadar potensi, melainkan sudah terjadi:
-
Kontan melaporkan 43.363 jemaah umrah tertunda keberangkatannya, yaitu jemaah yang semula dijadwalkan berangkat sebelum pelaksanaan haji 2026.
-
Detik melaporkan biro umrah menyebut gangguan keberangkatan terjadi dalam rentang 2 Maret hingga 27 Maret 2026, dan ada biro yang mencatat ratusan jemaah keberangkatannya terdampak.
-
Di daerah, muncul kasus jemaah yang tertahan karena penerbangan terganggu, misalnya laporan Metro TV tentang 21 jemaah asal Jepara yang masih tertahan di Saudi akibat gangguan penerbangan internasional.
Kesimpulannya: iya, kemungkinan penundaan di bulan Maret 2026 tinggi, terutama jika rute penerbangan terkait Timur Tengah masih mengalami penutupan wilayah udara atau pembatasan operasional.
Tapi apakah semua keberangkatan otomatis berhenti?
Tidak selalu. Ada juga laporan bahwa sebagian jemaah tetap berangkat dalam jumlah kecil, meski situasi meningkat. Misalnya, RRI melaporkan 80 jemaah dari Indonesia tetap berangkat pada 1 Maret 2026.
Artinya, keberangkatan bisa tetap berjalan secara selektif, tergantung maskapai, rute, transit, dan kebijakan terbaru masing-masing negara/otoritas penerbangan.
Namun, pernyataan pemerintah tetap menjadi rujukan utama: imbauan penundaan dikeluarkan sebagai bentuk kehati-hatian agar jemaah tidak terjebak jadwal berubah-ubah atau tertahan tanpa kepastian.
Kenapa penundaan bisa terjadi meski tujuan akhirnya Saudi?
Karena penerbangan internasional ke Saudi tidak berdiri sendiri. Banyak rute melewati/terhubung dengan:
-
wilayah udara negara Teluk,
-
hub penerbangan seperti Doha/Dubai/Abu Dhabi,
-
dan koridor yang sensitif bila terjadi eskalasi.
Ketika otoritas menutup sebagian wilayah udara atau maskapai menghindari zona risiko, penerbangan bisa:
-
dialihkan rutenya (lebih jauh, lebih mahal, lebih lama),
-
ditunda karena rotasi pesawat berantakan,
-
atau dibatalkan karena keselamatan/operasional.
Jadi, apa yang harus dilakukan calon jemaah umrah Maret?
Berikut langkah yang paling aman dan praktis:
-
Cek status penerbangan harian, bukan asumsi jadwal
Karena situasi berubah cepat. Pastikan update dari maskapai dan travel, bukan hanya informasi grup. -
Minta kepastian kebijakan “reschedule/refund” tertulis
Mintakan dokumen resmi: apakah bisa pindah tanggal, apakah ada biaya tambahan, bagaimana skema pengembalian. -
Ikuti imbauan pemerintah jika jadwal Anda “dalam waktu dekat”
Imbauan Kemenhaj jelas: tunda sampai kondisi kondusif. -
Siapkan skenario penundaan 1–3 minggu
Karena ada laporan gangguan sampai akhir Maret (2–27 Maret). -
Jika sudah terlanjur berangkat: perkuat komunikasi
Simpan kontak perwakilan RI dan travel, pastikan ada update kepulangan jika jadwal berubah. Pemerintah menyatakan memantau dan melakukan perlindungan bagi jemaah terdampak.
Dengan adanya imbauan resmi penundaan, data puluhan ribu jemaah tertunda, serta gangguan penerbangan yang masih berlangsung, keberangkatan umrah sepanjang Maret 2026 memang berpotensi mengalami banyak penundaan.