| 95 Views

Bencana Banjir : Akibat Tata Kelola Kapitalis yang Rusak

Foto Banjir di Utara Sumatera: (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

Oleh : Aminah
Kota Banjar

Hampir di beberapa Kota bencana banjir terjadi. Di antaranya wilayah Sumatera. Banyak spekulasi mengatakan “cuaca ekstrem“ atau “fenomena siklon tropis yang langka“ seolah bencana ini tidak bisa di hindarkan atau murni karena suatu alamiah. 

Jika kita telaah, dari banyaknya kerusakan, jumlah korban yang tidak sedikit, di tambah pola pengulangan bencana yang relatif sama di wilayah tersebut, bahkan cenderung lebiht meningkat setiap tahunnya, tentu jadi pertanyaan. Bencana banjir terus terulang, tentu bukan dampak dari deras hujan. Akan tetapi ada kesalahan dalam pengelolaan ekologis lingkungan. Bahkan Siklon Tropis Senyar dan Koto fenomena cuaca tidak lazim. BMKG menyebut hal ini kejadian pertama dalam sejarah, yang tumbuh di Selat Malaka, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kompas.com(28/11/2025).

Rusaknya Tata Kelola Sumber Daya Alam

Bencana banjir terus berulang semata-mata bukan karena curah hujan tinggi, atau pun pendangkalan sungai. Tetapi akar masalahnya adalah kebijakan bangunan kapitalistik yang telah mengabaikan lingkungan, sehingga berdampak pada masyarakat. Dahulu ketika datang hujan 70% air hujan meresap ke tanah, sedangkan sekarang 30% yang meresap, sisanya mengalir ke hilir. 

Alam sedang memperlihatkan luka yang tidak pernah di pedulikan, akibat hutan beralih fungsi. Dari yang dulu tumbuh pohon besar dengan akar yang kuat sebagai resapan air ketika hujan. Saat ini, pohon tersebut di tebang, di gunduli. Deforestasi semakin tidak terkendali, gelondongan kayu menjadi bukti habitat gunung di alih fungsikan menjadi area tambang, gambut dikeringkan, sungai dipaksa menyempit, Sumber Daya Alam (SDA )terus dieksploitasi tanpa henti, semua demi investasi. Semua itu akibat kebijakan yang hanya pro kepada kapitalis bukan kepada kepentingan rakyat.

Karakteristik Para Kapitalis

Nampak jelas siapa yang memberi peluang atau Izin yang dilegalkan oleh para pejabat, dari proyek yang hanya menguntungkan pengusaha atau segelintir orang. Mereka tidak lain para kapitalis yang mendapat limpahan keuntungan dari setiap kebijakan. Sementara alam di biarkan kian rusak, yang berimbas dan menjadi korban adalah rakyat. 

Sudah banyak alam yang menjadi korban atas keserakahan para pemilik modal. Oleh karena itu mengakibatkan bencana alam yang tidak bisa dielakkan, seperti banjir, longsor, pencemaran udara, pencemaran lautan dan lain-lain. Semua itu akibat buah dari tata kelola Sumber Daya Alam yang keliru. 

Beginilah wajah asli sistem yang diadopsi saat ini (Kapitalisme) yang menjadi dasar sebuah negara, sekaligus menjadi penerapan sistem ekonominya. Ditambah sistem ini menganut kebebasan kepemilikan bagi mereka yang memiliki modal. Sehingga para pemodal bebas membuka peluang bisnis yang di anggap menguntungkan, tanpa melihat dampak yang di hasilkan dari kebijakan tersebut. Tak ayal kelestarian Sumber Daya Alam terancam rusak. 

Seperti itulah gambaran karakteristik ketamakan para oligarki yang mampu memonopoli pemilik kekuasaan. Sehingga peran negara hanya sebagai  fasilitator dan regulator. Fasilitator yaitu pihak yang menyediakan dan melancarkan tujuan para oligarki. Sedangkan regulator, adalah pihak yang menetapkan suatu peraturan. Maka tidak bisa di pungkiri, mereka dengan mudahnya membentuk undang-undang, menghindari sanksi hukum yang berlaku, juga meloloskan izin. Negara bekerja bukan lagi untuk rakyat, tetapi melindungi kepentingan para oligarki. 

Merusak lingkungan atau merusak ekologi tentu akan mendatangkan bencana sebagaimana Allah Swt berfirman : 

“Telah tampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena ulah tangan manusia. Dengan itu Allah bermaksud menimpakan kepada mereka sebagai dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar”. (QS Ar-Rum 30 : 41).

Solusi Yang Hakiki

Dalam sistem Islam Sumber Daya Alam (SDA) termasuk kepemilikan umum yang tidak boleh dimiliki oleh individu (perorangan). Kepemilikan umum wajib dikuasai dan dikelola negara untuk kesejahteraan rakyat. Kepemilikan umum tidak boleh dimiliki oleh swasta apalagi asing. Pengelolaannya sepenuhnya dilakukan oleh negara tanpa merusak alam, tanpa mengganggu kelestarian ekologi. Begitu pun dengan hasil Sumber Daya Alam, di peruntukkan untuk kemaslahatan rakyat secara adil.

Sudah saatnya Umat muslim berjuang menegakkan sistem islam dan berpikir dengan kacamata islam, demi mewujudkan keimanan, dan ketakwaan secara hakiki. Perlu dipahamkan bahwa berlama-lama hidup dalam sistem kapitalis-sekuler seperti sekarang, bukan hanya mendatangkan kesempitan, akan tetapi kemudharatan. Salah satunya mengundang berbagai bencana alam, seperti banjir bandang. Lebih mengerikan lagi jika hidup dengan aturan buatan manusia, yang setiap aturannya banyak menghantarkan pada kerusakan, yang akan mendatangkan kemurkaan Allah SWT. 

Bencana banjir seharusnya menjadi muhasabah bagi manusia agar mereka mau tunduk kembali kepada aturan islam. Karena selama aturan kehidupan di sandarkan pada akal manusia, seperti sistem kapitalis-sekuler, maka mustahil tercipta kemaslahatan. Satu-satunya solusi untuk kesejahteraan rakyat tidak lain dengan menerapkan islam kafah, yang akan mengembalikan tata kelola Sumber Daya Alam sesuai dengan perintah Allah SWT. 

Wallahu'alam Bishawab


Share this article via

21 Shares

0 Comment