| 3 Views

AS–Iran: Antara Kekuatan dan Kerapuhan Global

(Iran News Agency via X/M. Mahdi Pourarab/ @araghchi)

Oleh : Qalamuna 

Aliansi Penulis Rindu Islam

Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali membuka tabir realitas geopolitik global yang sarat dengan perang narasi. Sejumlah laporan media mencatat bagaimana Iran mengklaim kemenangan setelah berhasil mendorong Amerika Serikat menerima skema gencatan senjata dengan sejumlah poin tuntutan. Di sisi lain, Donald Trump juga menyampaikan klaim kemenangan total dari pihak Amerika. Fakta ini menunjukkan bahwa dalam konflik modern, kemenangan tidak lagi semata ditentukan oleh dominasi militer, tetapi juga oleh kemampuan membangun persepsi publik global.

Di tengah saling klaim tersebut, satu realitas yang sulit dibantah adalah bahwa Amerika Serikat dan Israel tidak mampu dengan mudah menundukkan Iran, yang secara faktual berdiri sebagai satu negara Muslim dengan kapasitas terbatas dibandingkan kekuatan Barat. Ketahanan Iran memperlihatkan bahwa dominasi adidaya tidak selalu bersifat absolut. Bahkan, tekanan militer dan ekonomi bertahun-tahun tidak mampu sepenuhnya melumpuhkan daya tawar negara tersebut di panggung internasional.

Menariknya, Amerika Serikat juga tidak sepenuhnya berhasil memobilisasi sekutu-sekutunya untuk terlibat langsung dalam konflik. Banyak negara memilih berhitung secara cermat terhadap risiko yang ada. Hal ini menegaskan satu prinsip klasik dalam hubungan internasional: tidak ada aliansi yang bersifat permanen, kecuali yang didasari kepentingan. Loyalitas global bersifat cair, mengikuti arah keuntungan strategis masing-masing negara.

Di sisi lain, dunia Muslim sendiri justru menunjukkan fragmentasi yang nyata. Beberapa negara memilih berada dalam orbit kepentingan Barat, sementara yang lain mengambil posisi berseberangan. Perbedaan ini tidak bisa dilepaskan dari kepentingan politik domestik, keamanan, dan ekonomi masing-masing rezim. Namun, kondisi ini secara tidak langsung melemahkan posisi kolektif dunia Muslim dalam menghadapi tekanan global.

Dari sudut analisis, konflik ini meruntuhkan sebagian mitos tentang kekuatan absolut negara adidaya. Amerika Serikat dan Israel tetap kuat, tetapi bukan tanpa batas. Iran menunjukkan bahwa perlawanan tetap mungkin dilakukan, meskipun dengan berbagai keterbatasan. Namun demikian, keberhasilan ini tidak serta-merta mengubah struktur kekuatan global secara drastis, melainkan lebih sebagai pengingat bahwa keseimbangan kekuatan selalu dinamis.

Akar persoalan yang lebih dalam terletak pada absennya kesatuan strategis di antara negara-negara Muslim. Dengan sumber daya alam yang melimpah, posisi geografis yang strategis, serta populasi besar, dunia Muslim sebenarnya memiliki potensi menjadi kekuatan global yang signifikan. Namun, potensi tersebut belum terkonversi menjadi kekuatan nyata akibat perpecahan politik, konflik internal, dan ketergantungan pada kekuatan eksternal.

Dalam konteks solusi, berbagai pendekatan dapat dipertimbangkan. Dari perspektif geopolitik modern, penguatan kerja sama regional, integrasi ekonomi, dan kemandirian teknologi menjadi langkah yang realistis. Sementara itu, dari sudut pandang pemikiran Islam, gagasan tentang persatuan umat dalam satu kepemimpinan politik diajukan sebagai konsep normatif yang bertujuan menyatukan visi dan kekuatan. Konsep ini dipahami sebagai upaya untuk menghilangkan sekat nasionalisme sempit dan membangun solidaritas lintas batas.

Namun, implementasi gagasan tersebut menghadapi tantangan besar di era negara-bangsa modern. Karena itu, diskursus mengenai persatuan dunia Muslim, baik dalam bentuk kerja sama multilateral maupun konsep yang lebih ideologis, perlu ditempatkan dalam kerangka dialog terbuka, realistis, dan kontekstual. Yang menjadi kunci bukan hanya bentuk institusinya, tetapi kemampuan membangun keadilan, kemandirian, dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Pada akhirnya, pelajaran penting dari konflik AS–Iran bukan sekadar tentang siapa yang menang atau kalah, melainkan bagaimana dunia Muslim membaca peluang di tengah perubahan tatanan global. Tanpa kesadaran kolektif dan strategi yang matang, potensi besar akan tetap menjadi potensi. Namun dengan arah yang jelas, baik melalui kerja sama pragmatis maupun inspirasi nilai-nilai keadilan dalam Islam, dunia Muslim memiliki peluang untuk memainkan peran yang lebih signifikan dalam membentuk masa depan global.


Share this article via

0 Shares

0 Comment