| 32 Views
Angka Bunuh Diri Anak Sekolah Meningkat, Kegagalan Sistem Pendidikan Sekuler
Ilustrasi gantung diri.(SHUTTERSTOCK)
Oleh : Reni Sumarni
Peristiwa bunuh diri yang terjadi di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat yang menimpa dua anak sekolah menambah panjang masalah di negeri ini, belum lagi yang terjadi di Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama pada bulan Oktober 2025. Korban gantung diri di ruang kelas Selasa siang (28/10/2025). Menurut penyelidikan polisi korban di duga bunuh diri karena mengalami tindakan bullying dan kasus ini menimpa dua orang siswa di bulan Oktober hanya berbeda tanggal dan waktu saja.
Peristiwa ini jelas saja membuat masyarakat kaget, terlebih lagi Wakil Menteri Kesehatan Dante Harbuwono mengungkapkan (30/10/2025) bahwasanya, data dari program pemeriksaan kesehatan jiwa gratis sangat mengkhawatirkan, dan angka yang ditunjukkan ada lebih dari dua juta anak Indonesia mengalami bermacam macam bentuk gangguan mental. Sangat memprihatinkan sekali mendengar berita yang menimpa generasi kita saat ini, dimana pada masa itu mereka yang harusnya belajar untuk meraih cita-cita akan tetapi malah berakhir tragis.
Ini adalah sebuah tamparan keras untuk kita semua terutama para pendidik di sekolah. Berbagai penyebab anak sekolah bunuh diri, mulai dari bullying, stres akibat memikirkan tuntutan tugas untuk menjadi siswa berprestasi dan yang lainnya. Karena pada intinya negara yang menganut demokrasi sekuler kapitalis membuat mental generasi anak bangsa lemah, hingga mereka mudah sekali mengakhiri hidup, dan mengabaikan ajaran agama, yang harusnya menjadi pondasi untuk membentuk diri pribadi yang lebih kuat dan tidak mudah putus asa.
Juga adanya pengaruh budaya barat yang terlanjur melekat dalam diri anak-anak bangsa, menjadi penyebab kesehatan dan gangguan mental anak rapuh. Mulai dari tayangan di medsos yang manampilkan gaya hidup hedonis, yang ingin diakui di circle mereka sampai memaksakan diri dan akhinya tidak mampu mengimbangi, ujung-ujungnya berakhir bunuh diri, inilah nasib generasi kita saat ini.
Sistem sekuler kapitalis nyatanya hanya melahirkan generasi yang lemah, minimnya pembelajaran agama di sekolah juga dalam ranah keluarga pun masih kurang, bahkan masyarakat yang individualis tidak peduli kondisi sekitar, menjadi pemicu akar masalah ini. Karena sejatinya disaat anak menginjak usia remaja pemikirannya cenderung labil, mudah terpengaruh hal-hal yang baru, selalu ingin mencoba sesuatu yang belum tentu itu benar, dan harusnya disitulah peran keluarga, masyarakat dan negara untuk mengarahkan generasi kita ke arah yang lebih baik, bukan membebaskan mereka memilih tanpa landasan agama yang kuat.
Islam menjadi solusi setiap permasalan umat, khususnya dalam hal atau peristiwa yang ada saat ini, dimana kasus bunuh diri merupakan suatu hal yang harus diperhatikan karena menyangkut nasib generasi muda yang akan menjadi tonggak peradaban bangkitnya Islam kembali. Akan tetapi nasib anak muda saat ini sungguh sangat miris. Dalam Islam, negara akan menerapkan aturan yang sesuai tuntunan syariat yaitu bersumber dari Qur'an dan As-sunnah. Juga akan mengatur setiap aliansi pendidikan wajib untuk menerapkan kurikulum Islam mencakup mulai dari akidah, ibadah, muamalah, pergaulan. Ini semua dilakukan untuk mencetak generasi yang kuat secara mental dan fisik, berakhlak Islam dan memiliki adab yang baik terhadap orang yang lebih tua maupun sesama.
Negara juga akan mengatur tontonan dari medsos dan media lainnya, agar tidak menayangkan adegan kekerasan, perkataan yang tidak pantas seperti cacian, hinaan yang tayang bebas dan mudah diakses anak-anak. Disitulah peran negara hadir untuk membatasi akses medsos. Sedangkan di masyarakat, dibangun untuk memiliki rasa peduli terhadap sesama dengan berinteraksi dimana kita bisa mengetahui apabila saudara kita memiliki masalah lalu membantu mereka semampu kita.
Untuk di keluarga sendiri dimana dalam Islam setiap individu wajib memiliki pemikiran Islam yang diterapkan dalam keluarga, untuk senantiasa mendidik anak-anaknya dengan pembinaan tentunya yang seperti Rasulullah saw dulu ajarkan pada para sahabat, sehingga membentuk menjadi diri pribadi yang kuat memiliki pola pikir dan kepribadian Islam, dengan pengkajian secara intensif mempelajari Islam secara kaffah dari akar hingga daun.
Tiga pilar tadi yaitu peran negara, masyarakat dan keluarga yang akan menjadi solusi untuk mengatasi masalah yang terjadi sekarang ini, yaitu kasus bunuh diri yang menimpa anak-anak. Siapa lagi yang akan menyelamatkan mereka kalau bukan kita, maka teruslah mendakwahkan akan pentingnya penerapan syariat Islam secara kaffah, karena sejatinya bunuh diri termasuk dosa besar seperti firman Allah :
"Janganlah kamu membunuh dirimu sesungguhnya Allah adalah maha penyayang kepadamu" (QS. An Nisa: 29). Rasulullah saw juga pernah bersabda, "Barang siapa membunuh dirinya sendiri dengan sesuatu, maka nanti pada hari kiamat ia akan disiksa dengan sesuatu itu". (Muttafaq Alaih).
Wallahu a'lam bishshowab.