| 140 Views

Anak Membutuhkan Perlindungan Yang Nyata Dari Negara

Oleh : Sumarni Ummu Suci

Hari Anak Nasional (HAN) pada tahun ini telah dirayakan pada hari Rabu, 23 Juli 2025 dengan tema "Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045". (Sumber : www.fimela.com)

Sementara subtema berkelanjutan yang diusung berhubungan dengan tujuan dalam perkembangan pendidikan dan kehidupan anak - anak Indonesia, diantaranya :
- Generasi Emas Bebas Stunting;
- Investasi Gizi Sejak Dini;
- Anak Cerdas Digital;
- Aman dan Positif di Dunia Maya;
- Stop Perkawinan Anak;
- Wujudkan Impian Anak Indonesia;
- Anak Terlindungi Menuju Indonesia Emas 2045
- Hentikan Kekerasan Sekarang !
- Pendidikan Inklusif Untuk Semua;
- Tak Ada Anak Tertinggal (Sumber : www.fimela.com)

Menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak menyerukan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam perlindungan anak.

Ia mengingatkan tanggung jawab melindungi anak tidak hanya milik negara, tetapi juga tanggung jawab orang tua, guru, komunitas dan masyarakat luas. (Sumber : www.prohealth.id)

Subtema yang diangkat dalam peringatan Hari Anak Nasional Kali ini seolah menjadi cerminan nyata bahwa anak - anak Indonesia yang jumlahnya diperkirakan mencapai 85 juta jiwa masih terus bergulat dengan berbagai persoalan krusial.

Persoalan - persoalan tersebut tidak ringan, mulai dari tingginya angka Stunting, maraknya kekerasan terhadap anak, pergaulan bebas, kecanduan gadget hingga kualitas pendidikan yang rendah.

Pemerintah sejatinya telah meluncurkan berbagai program untuk mengatasi masalah ini seperti program percepatan penurunan Stunting yang menjadi prioritas nasional melalui kerjasama lintas sektor yakni Kemenkes, BKKBN, Kemenko PMK dan lainnya yang menargetkan penurunan prevalensi Stunting menjadi 14 % pada 2024. (www.kemenkopmk.go.id)

Disektor pendidikan, pemerintah menggulirkan program Indonesia pintar (PIP) untuk membantu anak - anak dari keluarga miskin agar tetap bisa bersekolah serta menerapkan kurikulum merdeka sebagai upaya repormasi pendidikan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan siswa. (sumber : www.tempo.co) 

Sementara untuk menanggulangi kekerasan terhadap anak telah dibentuk Unit Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (UPT PPA) diberbagai daerah serta penguatan Sistem Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM).

Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa berbagai program tersebut belum memberikan perubahan yang signifikan terhadap nasib anak - anak Indonesia.

Angka Stunting masih tinggi di beberapa daerah, kekerasan anak belum mereda dan kualitas pendidikan nasional masih tertinggal jauh dibandingkan banyak negara lain.

Fakta ini menyingkap adanya kesalahan mendasar dalam arah kebijakan yang diambil negara.

Alih - alih menyelesaikan persoalan secara tuntas, pendekatan yang digunakan cenderung tambal sulam dan bersifat sektoral bukan menyeluruh.

Hal ini mencerminkan adanya problem sistemik yang tidak bisa di selesaikan dengan solusi persial.

Sistem sekuler kapitalistik yang diterapkan di negeri ini cenderung menempatkan pembangunan pada aspek ekonomi semata dengan mengabaikan pembentukan iman, kepribadian Islam, akhlak dan ketahanan keluarga sebagai pondasi utama perlindungan anak.

Akibatnya kebijakan yang diambil kerap tidak menyentuh akar masalah bahkan menimbulkan persoalan baru.

Selama sistem ini masih dipertahankan, maka nasib anak - anak Indonesia akan terus berada dalam bayang - bayang keterpurukan.

Berbeda dengan sistem Kapitalisme yang persial dan profit - oriented, penerapan islam secara kaffah dalam naungan institusi khilafah Islam, memiliki pandangan yang agung terhadap anak.

Dalam Islam anak bukan sekedar aset keluarga, melainkan generasi penerus umat dan calon pemimpin masa depan yang sangat menentukan arah peradaban.

Oleh karena itu penguasa dalam negara khilafah bertanggung jawab penuh terhadap seluruh aspek kehidupan anak.

Mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar, jaminan pendidikan, layanan kesehatan hingga perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan.

Kebijakan yang diambil oleh negara bersifat menyeluruh, integral dan komprehensif dengan asas utamanya adalah aqidah Islam.

Semua peraturan dan kebijakan dilandaskan pada Al - Qur'an dan As - Sunnah menjadikan sistem yang tidak hanya adil tetapi juga solutif.

Allah SWT berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

"Wahai orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...". (QS.At - Tahrim : 6)

Ayat ini menunjukan bahwa negara berkewajiban menciptakan sistem yang menjaga dan melindungi generasi sejak dini.

Dalam bidang pendidikan, khilafah menjamin pendidikan  yang berkualitas secara cuma - cuma (gratis) bagi seluruh warga termasuk anak - anak.

Negara mendirikan lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga tinggi dengan kurikulum berbasis aqidah Islam yang mengintegrasikan tsaqofah Islam dan ilmu kehidupan.Tujuannya membentuk anak berkepribadian Islam dan kompeten dalam sains dan teknologi.

Negara juga menyediakan sarana dan prasarana termasuk guru - guru yang kompeten dan di gaji secara layak dari Baitul Mall.

Dalam bidang kesehatan negara menyediakan layanan kesehatan gratis dan berkualitas melalui rumah sakit yang dikelola negara yang tersebar hingga pelosok wilayah khilafah.

Tenaga medis di sediakan oleh negara dan sistem pencegahan penyakit dijalankan secara aktif untuk melindungi anak - anak dari berbagai ancaman kesehatan termasuk stunting dan gizi buruk.

Ada pun perlindungan anak dari kekerasan dalam negara khilafah dijamin melalui penerapan hukum Islam yang tegas dan preventif.

Negara tidak membiarkan  anak - anak terlantar atau menjadikan korban kejahatan karena sistem sosial islam menjadikan keluarga dan masyarakat sebagai pihak yang saling mendukung dalam menjaga dan mendidik anak.

Negara juga akan menghukum pelaku kekerasan terhadap anak dengan hukuman yang sesuai syari'at demi memberi efek jera dan perlindungan menyeluruh.

Dengan sistem seperti ini anak - anak tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, dan mendidik yang akan melahirkan generasi cemerlang yang siap memimpin peradaban Islam di masa depan.

Wallahua'lam bisshawab.


Share this article via

37 Shares

0 Comment