| 12 Views

Algoritma Menyasar Gen Z Berekonomi Lemah

Ilustrasi algoritma pemrograman. Dok. Shutterstock

Oleh: Susi Ummu Musa

Dunia digital memang sangat memanjakan mata. Kita akan terus dibuat berlama-lama di dalamnya. Scroll-scroll di berbagai media sosial menjadi hal yang mengasyikkan hingga tak sadar waktu berlalu sampai berjam-jam.

Jika kita tidak bisa mengontrol diri dan menggunakan handphone dengan bijak, maka jangan heran jika akan ada banyak bahayanya. Tentu kita pernah mendengar bahwa ada banyak kasus pada anak-anak yang kecanduan gadget hingga harus mendapatkan perhatian serius. Seperti pisau bermata dua, seperti itulah gambaran dunia digital yang mewarnai kehidupan di abad ini. Banyak hal yang mempermudah dan banyak hal yang merugikan. Semua seakan berjalan tanpa kita sadari.

Pelan tapi pasti, era Gen Z menjadi yang paling mendominasi bahwa digitalisasi menggerakkan imajinasi mereka, dari sebuah karya hingga malapetaka. Begitupun arus sebuah algoritma yang telah merekam data dan aktivitas mereka di handphone pribadi masing-masing. Sasaran itu tepat hingga mengikat Gen Z dengan disesuaikan gaya hidupnya.

Bahkan dikatakan bahwa para peneliti menganalisis bagaimana tingkat sosial ekonomi dan gender kaum muda memengaruhi iklan yang mereka terima di TikTok dan Instagram. Di antara data lainnya, studi ini mengungkapkan bahwa persentase kaum muda kelas bawah yang menerima iklan produk keuangan berisiko (15 persen) hampir dua kali lipat dari rekan-rekan mereka dari kelas atas (8 persen).

Di media sosial ini, kaum muda dari latar belakang sosial ekonomi bawah menerima iklan paling banyak yang terkait dengan layanan keuangan berisiko, seperti pinjaman cepat daring (pinjol) dan investasi dalam mata uang kripto, judi, gim daring, atau konten yang menjanjikan penghasilan mudah dan pekerjaan fleksibel dengan persyaratan yang sedikit.

Sebaliknya, satu-satunya jenis iklan yang sering muncul untuk kaum muda kelas atas terkait dengan perjalanan dan rekreasi.

Akhirnya, apa yang terjadi pada Gen Z dengan ekonomi lemah? Hanya menyisakan kehancuran dan kekacauan karena mereka berpikir rendah di tengah gaya hidup hedon. Gaya hidup yang diatur dengan kemauan tren tanpa ada batasannya. Semua ini terjadi akibat dari aturan manusia yang lemah dan terbatas, yaitu kapitalisme.

Ideologi kapitalisme ini bertentangan dengan fitrah dan akal sehat manusia. Ideologi ini memuja manusia sebagai pusat segalanya. Pada intinya, ideologi kapitalisme melahirkan eksploitasi dan alienasi manusia yang mengarah pada upaya mementingkan diri sendiri. Inilah yang melahirkan berbagai kerusakan, mulai dari aspek ekonomi, sosial, budaya, moral, politik, kekuasaan, dan sebagainya.

Di tengah sistem rusak ini, negara tidak berperan aktif hingga memberikan solusi sebagai bentuk perlindungan bagi generasi. Meski pemerintah telah mengatakan telah menghapus situs berbahaya, namun tontonan mereka masih tetap ditentukan oleh algoritma. Maka selama negara masih mempertahankan sistem kapitalisme, kondisi Gen Z akan terus seperti ini.

Gen Z yang hidupnya dalam kondisi ekonomi lemah akan semakin terpuruk dalam cengkeramannya. Lantas, apa yang bisa menyelamatkan Gen Z dari sistem ini? Satu-satunya jalan yaitu kembali kepada aturan Islam, aturan yang berasal dari Allah SWT. Negaralah yang berperan menjalankan aturan Islam tersebut dengan mengadakan sistem digital yang jauh dari pengaruh buruk. Yang pasti, algoritma akan memberikan konten-konten yang justru membawa kepada takwa.

Wallahu a’lam bisshawab.


Share this article via

11 Shares

0 Comment