| 322 Views
Alam Marah Saatnya Hukum Islam Diterapkan
Oleh : Dewi yuliani
Indonesia diterpa Musibah bencana alam terjadi di sejumlah daerah, di antaranya Sukabumi. Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Sukabumi, hingga Sabtu (7-12-2024) pukul 17.30 WIB ada 328 titik bencana yang tersebar di 39 kecamatan. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi Deden Sumpena menjelaskan bahwa jenis bencana yang terjadi di tiap kecamatan sangat bervariasi. Tanah longsor, banjir, angin kencang, dan pergerakan tanah menjadi bencana utama yang merusak.
Selain Sukabumi, bencana alam juga terjadi di daerah lain seperti Cianjur dan Pandeglang. Di Cianjur, Jawa Barat bencana alam berupa pergerakan tanah meluas di 15 kecamatan dan kemungkinan masih bertambah. Sedangkan di Pandeglang, Banten banjir terjadi akibat luapan Sungai Cilemer sejak Senin (2-12-2024) sehingga merendam permukiman warga setinggi 1—2,5 meter. Akibatnya, akses jalan warga menjadi terbatas dan sebanyak 202 warga harus mengungsi di posko darurat.
Bencana itu terjadi setelah hujan deras mengguyur sebagian besar wilayah Sukabumi. Penyebab utama banjir adalah buruknya kondisi saluran drainase yang tidak dapat menampung aliran air sehingga air meluap dan merendam permukiman warga.
Sukabumi memang dikenal dengan keindahan alamnya, yaitu pegunungan, pantai, hingga air terjun. Namun, wilayah ini juga memiliki kerentanan terhadap berbagai jenis bencana alam. Penyebabnya ada beberapa faktor, di antaranya letak geografisnya yang berada di wilayah dengan aktivitas tektonik yang tinggi dan memiliki topografi yang beragam persoalan kualitas dan kuantitas air. Ini karena pencemaran air sungai dan sumber air lainnya terus terjadi sehingga harus ditanggulangi secara serius. Fakta ini berkelindan dengan bencana banjir di Kabupaten Sukabumi awal Desember ini, di antara penyebabnya adalah pendangkalan sungai yang pada akhirnya menyebabkan sungai mudah meluap saat musim hujan.
Tidak Cukup Solusi Teknis
Banjir dan longsor sering dianggap sebagai akibat langsung dari curah hujan yang tinggi dan meluapnya sungai. Kita melihat dengan mencermati faktor-faktor lainnya, penyebab banjir bandang di Sukabumi secara umum erat kaitannya dengan ulah tangan manusia, khususnya dari sisi kerusakan alam dan lingkungan. Istilah Kerusakan yang Disebutkan dalam Surat Ar Rum berisikan berbagai peristiwa yang salah satunya tentang terjadinya kerusakan di muka bumi. Allah SWT menyebut dalam surah Ar Rum ayat 41.
Allah SWT berfirman,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ٤١
Żaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aidin-nāsi liyużīqahum ba'ḍal-lażī 'amilū la'allahum yarji'ūn
Artinya: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
Semua pembangunan ini berkonsekuensi terjadinya alih fungsi kawasan hutan yang berperan penting bagi fungsi ekologis tanah dan penyerapan air. Namun sayang, upaya untuk menyolusi bencana alam akibat faktor lingkungan tersebut selama ini masih berupa langkah-langkah teknis. Misalnya dengan meningkatkan edukasi dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah, membangun dan memperbaiki sistem pengelolaan sampah seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS), melakukan pengolahan air limbah dan menjaga kelestarian sumber air, serta menerapkan tata ruang yang berkelanjutan dan upaya mitigasi kebencanaan.
Terjadinya bencana alam memang layak membuat kita muhasabah. Namun, kita tidak bisa menampik bahwa bencana alam di Sukabumi sejatinya bersifat sistemis. Ini tampak dari penanganan bencana dari tahun ke tahun yang tidak menunjukkan perubahan signifikan, padahal hampir tiap tahun data rekomendasi kerentanan bencana dari Badan Geologi selalu diperbaharui dan diberikan kepada pemda terkait.
Hujan adalah rahmat. Sedemikian teliti Allah menggambarkan proses terjadinya hujan. Kita pun dianjurkan membaca doa, “Allahumma shayyiban naafi’aa” saat turun hujan agar menjadi hujan yang bermanfaat.
Dengan begitu, pasti seimbang pula fungsi ekologis hujan tersebut bagi suatu kawasan. Ketika terjadi kerusakan lingkungan akibat ulah manusia, tidak pelak hujan yang semestinya menjadi rahmat justru berubah menjadi bencana.
Pembangunan dalam Islam juga mengandung visi ibadah, yaitu bahwa pembangunan harus bisa menunjang visi penghambaan kepada Allah Taala. Untuk itu, jika suatu proyek pembangunan bertentangan dengan aturan Allah ataupun berdampak pada terzaliminya hamba Allah, pembangunan itu tidak boleh dilanjutkan.
Juga lahan pesisir, semestinya difungsikan menurut potensi ekologisnya, yakni mencegah abrasi air laut terhadap daratan. Sedangkan kawasan hutan hendaklah dilestarikan sebagai area konservasi agar dapat menahan/mengikat air hujan sehingga tidak mudah menimbulkan tanah longsor, sekaligus menjaga siklus air.
Semua ini bisa terwujud karena motivasi pembangunan dilakukan sebagai bagian dari penerapan syariat Islam secara kafah sehingga tentu saja membuahkan keberkahan bagi masyarakat. Ini sebagaimana firman Allah Taala, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf [7]: 96).
Wallahualam bissawab.