| 103 Views
80 Tahun Kemerdekaan, Makin Kesini Makin Sengsara : Yakin Sudah Merdeka?
Oleh: Prita HW
Mompreneur, Pegiat Literasi, Trainer & Writer
Peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia seharusnya menjadi momentum untuk merefleksikan sejauh mana kemajuan bangsa ini dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Idealnya begitu.
Namun, realitasnya, banyak persoalan yang masih menghantui berbagai bidang kehidupan. Terutama memasuki bulan Agustus dan menjelang hari H kemerdekaan 17 Agustus yang baru berlangsung dan sebagian besar masih melanjutkan tradisi euforia lomba-lomba fun games tanpa tahu mau dibawa kemana arah perayaannya.
Kado “Masuk Kandang Jurang” Indonesia Merdeka 80 Tahun bagi Rakyat
Yang paling mencolok adalah kebijakan di bidang ekonomi, yang banyak dipicu berbagai statement pejabat yang mirisnya hari ini makin asbun dan terlihat inkompeten dalam komunikasi publik.
Mulai dari kebijakan rekening dormant atau pasif beberapa bulan berturut-turut yang langsung diblokir karena alasan menangkal aliran uang yang tidak jelas seperti money laundry. Anehnya, rekening yang dibekukan mayoritas tidak mencurigakan karena dimiliki rakyat kecil yang bela-belain menyisihkan hasil keringatnya bertahun-tahun.
Lalu konsekuensi tarif 19 % dengan Pemerintah USA yang berujung pada, salah satunya, semua data masyarakat Indonesia yang tergadai begitu saja untuk semua transaksi online yang terhubung NIK. Betapa ngerinya.
Baru-baru ini, Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani berujar bahwa pajak sama dengan zakat dan wakaf yang ada hak orang lain di dalamnya. Ah, betapa dangkalnya khazanah tsaqofah Islam di sini terpampang dengan sangat jelas.
Belum lagi di bidang pendidikan, lagi-lagi Sri Mulyani menjadi viral karena pernyataannya pada salah satu pidatonya saat menghadiri sebuah acara yang mengatakan bahwa guru adalah beban negara dan seharusnya tidak dibebankan pada pemerintah saja, tapi harus ada partisipasi dari masyarakat.
Dan baru-baru ini, juga beredar kabar tentang kenaikan gaji DPR dan tunjangan rumah anggota dewan senilai Rp. 50 juta yang dinilai Indonesia Corruption Watch (ICW) tidak layak diberikan karena pemerintah sedang melakukan efisiensi.
Di bidang ekonomi, misalnya, banyak pekerja yang terkena PHK, penghasilan masyarakat yang stagnan atau bahkan turun, dan harga-harga yang melambung tinggi. Kondisi ini membuat masyarakat terpaksa makan tabungan dan rawan menjatuhkan warga kelas menengah ke jurang kemiskinan.
”Gilaaaaa, tak masuk logikaaaa…” rasanya lirik lagu Mangu jadi pas untuk mengekspresikan semua yang terjadi sekaligus menjadi puncak kemuakan massal, sampai akhirnya muncul perlawanan masyarakat di media sosial ataupun di dunia nyata seperti pengibaran bendera One Piece yang dianggap simbol ekspresi pemberontakan maupun aksi warga Pati mendebat Bupatinya yang tiba-tiba menaikkan tarif PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) hingga 250 %.
Mengapa Bisa Serusak Ini?
Jelas, jika kita kembali lagi pada peran Allah yang tidak saja sebagai Al Khaliq (Sang pencipta), tapi juga Al Mudabbir (Sang Pengatur), Islam sudah lengkap memberikan peraturan dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Namun sayangnya, sistem yang diterapkan negara ini dan secara global di dunia adalah sistem sekuler-kapitalisme yang merupakan wujud dari ketamakan dan kesemena-menaan manusia.
Sistem sekuler-kapitalisme yang diterapkan saat ini tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat, melainkan melayani kepentingan kapitalis. Akibatnya, kesenjangan antara si kaya dan si miskin makin terasa bagaikan bumi dan langit.
Para pejabat wara wiri menaiki mobil mewah dan makan menu-menu restoran bintang lima, namun di sisi lain, masih ada berita gizi buruk, anak-anak yang harus berjalan kaki bahkan meniti tali menyeberangi sungai hanya untuk sampai ke tempat menuntut ilmu bernama sekolah. Bahkan bertahan hidup untuk makan saja harus benar-benar mengencangkan ikat pinggang. Sungguh ironi yang membuat hati teriris-iris.
Menurut laporan World Inequality Report, 1% penduduk terkaya di Indonesia menguasai 30,16% dari total aset rumah tangga secara nasional pada 2022. Sementara itu, kelompok 50% terbawah di Indonesia hanya memiliki 4,5% dari total kekayaan rumah tangga nasional.
Kemerdekaan seharusnya tampak pada kesejahteraan rakyat, yaitu terpenuhinya kebutuhan dasar tiap rakyat. Ketika rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, esensinya Indonesia belum merdeka secara hakiki.
Terlebih, dengan memelihara ideologi kapitalisme yang jelas-jelas hanya membawa keuntungan bagi segelintir orang saja, khususnya kaum oligarki. Memang, secara fisik, kita tidak sedang terjajah, namun secara ideologi, kapitalisme yang diterapkan secara global hari ini membunuh umat manusia tidak saja di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia secara perlahan-lahan. Sengsaranya luar biasa masif dan dampaknya pun sangat sistematis, tercipta banyak kemiskinan dan ketidak berdayaan sistemik.
Waktunya “Pulang”, Kembali ke Pangkuan Islam
Hari ini, demi mewujudkan masyarakat yang adil dan juga kemakmuran yang merata, sudah seharusnya kita “pulang” kembali ke asal muasal kita sebagai hamba Allah yang seharusnya tunduk dan patuh hanya kepada Allah saja, pencipta yang telah mengatur sedemikian rupa cara hidup umat muslim secara sempurna dan mulia.
Penerapan sistem Islam kaffah (sempurna) yang tiada memilah dan memilih syariat Nya adalah kebutuhan dan solusi hakiki atas kondisi keterpurukan ini.
Sistem Islam yang bernama Khilafah Islamiyah yang dimulai setelah masa Daulah Islam yang dipimpin Rasulullah SAW semenjak hijrah ke Madinah, telah terbukti mampu menyejahterakan rakyat dengan mengelola kepemilikan umum dan mengalokasikan hasilnya untuk kesejahteraan rakyat. Bukan segelintir orang saja. Semua atas nama kemaslahatan umat.
Negara menjamin kesejahteraan rakyat dengan memenuhi kebutuhan pokok rakyat, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Negara juga melakukan industrialisasi secara merata lapangan pekerjaan banyak tersedia dan ilmu pengetahuan di bukan selebar-lebarnya untuk menghasilkan ilmuwan-ilmuwan bermutu bagi peradaban Islam dan dunia.
Sistem Islam kaffah juga akan menjaga pemikiran umat tetap sejalan dengan syariat dan hidup dalam ketaatan kepada Allah. Seperti firman Allah SWT, “…supaya harta itu jangan beredar diantara orang-orang kaya saja di antara kamu." (QS Al-Hasyr [59]: 7).
Untuk meraih kemerdekaan, haruslah ada aktivitas perubahan hakiki yang dipimpin oleh jamaah dakwah Islam ideologis yang mengajak dan bertujuan mengajak umat untuk meninggalkan sistem kufur menuju Islam.
Saat ini sudah ada geliat perubahan di tengah masyarakat, namun belum menyentuh the basic problem yaitu keberadaan sistem kapitalisme yang menjadi penghambat utama ditegakkannya Islam kaffah.
Dengan menerapkan sistem Islam kaffah dalam segala lini kehidupan, Indonesia dapat benar-benar mencapai kesejahteraan rakyat yang hakiki dan merdeka yang sebenarnya-benarnya. Karena dalam pandangan Islam, kemerdekaan hakiki berarti bebas dari penghambaan kepada sesama makhluk, termasuk sistem yang diciptakannya yang bernama kapitalisme dengan akar sekulerisme, ke penghambaan hanya kepada Allah semata dan sistem yang sudah Allah tentukan yaitu ideologi Islam yang sempurna.
Wallahu a’lam bis shawab.