| 11 Views

Dilema Seorang Ibu Pekerja, Antara Kebutuhan dan Tuntutan

ilustrasi kecelakaan kereta api. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/app/agr

Oleh: Haryani, S.Pd.I
Pendidik di Kota Bogor

Berita duka yang berseliweran di media sosial (medsos), Senin malam, 27 April 2026, menyebutkan telah terjadi kecelakaan kereta api antara KRL dengan Kereta Cepat Argo Bromo Anggrek, di mana dari kecelakaan tersebut telah menelan korban jiwa. Sebagaimana dilansir dari media bahwa korban meninggal dunia akibat kecelakaan kereta api (KA) Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur bertambah menjadi 16 orang. Korban terakhir meninggal setelah sempat mendapat perawatan di ICU RSUD Kota Bekasi (DetikJateng.com, 29 April 2026). Tragisnya, mereka semua berada di gerbong khusus wanita yang ditabrak dari belakang oleh Kereta Argo Bromo Anggrek. Alhasil, semua korban jiwa adalah para wanita.

Sebelumnya, kita juga dikagetkan dengan berita dari sebuah daycare yang ada di Yogyakarta (Little Aresha Jogja), di mana telah terjadi penganiayaan terhadap para bayi dan balita yang dititipkan di tempat penitipan anak tersebut. Video penggerebekan terhadap daycare tersebut pun viral di medsos, yang memperlihatkan sejumlah balita yang diikat kaki dan badannya serta hanya mengenakan popok. Sungguh pemandangan yang membuat geram siapa pun yang melihatnya (Beautynesia, 28 April 2026).

Dua kejadian memilukan tersebut menampar wajah kita sebagai seorang perempuan sekaligus sebagai ibu. Mereka yang menjadi korban kecelakaan kereta semuanya wanita, di mana saat kejadian tersebut mereka dalam perjalanan pulang dari pekerjaannya. Ironis memang, namun itulah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Begitu pula dengan kasus daycare di Yogyakarta, balita-balita tersebut terpaksa dititipkan oleh ibunya karena mereka harus bekerja di luar rumah dari pagi hingga sore. Sungguh, dua kejadian itu menjadi bukti bahwa hidup seorang ibu di negara ini tidak baik-baik saja. Ada hal yang tidak bisa dihindari atau menjadi pilihan ketika hidup di negara yang menerapkan sistem kapitalisme saat ini.

Bekerja dan menitipkan anak yang masih balita tentu bukan hal yang mereka inginkan. Namun, tuntutan dan kebutuhan hidup memaksa para wanita di negeri ini melakukan pekerjaan yang bukan kewajibannya.

Negara Abai dalam Melindungi Wanita

Kejadian-kejadian seperti di atas tidak akan terjadi jika sistem negara ini berfungsi dengan baik. Pasalnya, negara bertanggung jawab memenuhi semua kebutuhan rakyatnya, baik sandang, pangan, maupun papan. Terlebih lagi dalam menyediakan lapangan pekerjaan bagi seorang laki-laki sebagai kepala rumah tangga, memberikan gaji yang memadai, serta menyediakan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang terjangkau. Dengan demikian, seorang ibu tidak harus menjadi tulang punggung keluarga dan memaksakan diri bekerja untuk membantu mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

Hal ini menjadi bukti nyata bahwa negara telah abai dalam melindungi kodrat seorang wanita, terlebih bagi seorang ibu. Seharusnya, seorang ibu fokus mengurus rumah tangga dan mendidik anak di rumah tanpa merasa tertekan oleh kebutuhan ekonomi yang semakin menghimpit. Namun, saat ini banyak wanita yang berubah fungsi menjadi tulang punggung keluarga. Dengan keterbatasannya sebagai wanita, mereka terpaksa menjadi kuat demi terpenuhinya kebutuhan rumah tangga.

Islam Menjamin Penuh Kebutuhan Rakyatnya

Dalam sistem Islam, negara sepenuhnya menjamin kesejahteraan rakyatnya. Rakyat menjalankan fungsinya dengan baik, di mana seorang kepala rumah tangga bertanggung jawab mencari nafkah, dan seorang ibu bertanggung jawab mengurus anak serta rumah tangganya. Begitu pula dengan negara, tanggung jawabnya sebagai institusi pemerintahan adalah memberikan pelayanan terbaik bagi warganya, seperti menyediakan lapangan pekerjaan yang layak, layanan kesehatan dan pendidikan yang murah bahkan gratis, serta kebutuhan ekonomi yang terjangkau.

Jika semua elemen menjalankan tugas sesuai fungsinya, maka kehidupan akan berjalan tertib dan teratur serta tidak menabrak kodrat yang telah Allah SWT tetapkan kepada hamba-Nya.

Sebagaimana dijelaskan dalam hadis:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam/kepala negara adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.”
(HR Bukhari dan Imam Muslim)

Semoga peristiwa yang telah terjadi menjadi pelajaran bagi kita, bahwa keberadaan institusi negara yang mengurus urusan rakyat sesuai hukum Allah sangat penting hadir di tengah kondisi masyarakat saat ini. Rakyat akan sejahtera, terlindungi keselamatannya, serta terpenuhi kebutuhannya. Hal ini hanya dapat direalisasikan dengan sistem yang mumpuni, yaitu sistem yang berasal dari Sang Khalik, pengatur seluruh urusan manusia.

Wallahu a’lam.


Share this article via

4 Shares

0 Comment