| 12 Views
Sistem Kapitalisme Terbukti Gagal!
Siswa/i MIN 20 Jakarta Menyantap MBG
Oleh: Kawkab Elfauzh
Program andalan Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG), tepat berusia satu tahun. Program ini disertai banyak klaim keberhasilan: MBG telah menyasar 49 juta penerima manfaat dengan 0,0007% kasus keracunan, melibatkan hampir 19.000 pelaku usaha kecil dan koperasi desa, serta menciptakan 1,5 juta lapangan pekerjaan baru.
Program MBG memiliki anggaran yang sangat besar, mencapai sekitar Rp1,2 triliun per hari secara nasional pada tahun 2026, bukan per daerah. Dana operasional yang disalurkan langsung ke dapur SPPG sekitar Rp6 juta per hari per lokasi untuk bahan baku dan gaji, sementara honor relawan bervariasi antara Rp100.000–Rp200.000 per orang per hari. Sebagian dana besar juga dialokasikan untuk pembelian bahan lokal guna mendorong ekonomi daerah. Dana ini dikelola melalui virtual account SPPG agar pencairan lebih cepat dan efisien, meskipun pelaksanaannya masih menghadapi tantangan di lapangan.
(Kompas.com, 19 November 2025)
Peluncuran dana MBG ke seluruh daerah di Indonesia tergolong sangat besar. Mulai dari dana yang dikeluarkan untuk pemasukan MBG, pembelian bahan MBG, hingga dana yang seharusnya menjadi hak rakyat justru berhenti di kantong penyimpanan orang-orang serakah.
Pada hakikatnya, pengadaan MBG bukan hanya sebatas memenuhi gizi masyarakat agar tidak terjadi peningkatan persentase stunting, melainkan juga untuk menguji seberapa amanah orang-orang yang memilih memiliki jabatan di atas masyarakat. Tidak sedikit pihak yang memiliki tujuan di balik diadakannya program ini.
Di antaranya adalah presiden dan wakilnya, yang tujuannya tidak hanya ingin menyelamatkan masyarakat dari kekurangan gizi, tetapi juga menyelamatkan harga diri dan nama baik di masa periodenya. Lalu, para oligarki dan jajarannya memiliki tujuan yang tidak kalah menyeramkan, yakni menjalankan bisnis yang akan menghasilkan banyak keuntungan tanpa harus memikirkan apakah masyarakat benar-benar terselamatkan atau tidak. Sebab, yang dipikirkan para oligarki hanyalah hasil yang diperoleh dari penggelapan bisnis MBG di balik layar.
Lalu, di mana letak kesalahannya?
Letak kesalahannya berada pada cara kerja pemerintah. Sebagai pihak dengan peran tertinggi dalam program MBG, terjadi penyalahgunaan niat baik beserta rencananya. Niat baik saja tidak cukup; harus ada pertanggungjawaban atas rencana yang telah atau akan dilaksanakan, baik tanggung jawab di dunia maupun di akhirat.
Jika niat baik, rencana baik, dan tanggung jawab yang baik berjalan seiring, maka tidak akan ada kasus ratusan siswa keracunan MBG, dapur SPPG yang tidak kembali beroperasi karena dana dibawa kabur oleh pengelola, hingga persentase stunting yang menetap bahkan meningkat. Bukankah demikian kenyataannya?
Seorang pemimpin seharusnya menjalankan amanah sebaik mungkin: bertanggung jawab, berlaku adil, menjalankan kewajiban, dan memenuhi hak rakyat. Untuk apa? Agar apa yang kelak Allah tanyakan di hari perhitungan dapat dijawab sesuai dengan usaha yang telah dikerahkan sekuat tenaga. Karena amanah bukanlah mainan yang dapat diperlakukan sesuka hati, melainkan beban berat yang harus dipikul; berat pahalanya jika dilaksanakan dengan baik, dan berat dosanya jika dilaksanakan tanpa tanggung jawab.
Lalu pertanyaannya, pemimpin seperti apa yang harus dijadikan pemimpin yang lurus?
Jawabannya adalah pemimpin yang lahir dari akidah Islam dan selalu terikat dengan syariat Islam.
Pemimpin seperti ini akan menjalankan kewajibannya dengan penuh rasa tanggung jawab. Mengapa demikian? Karena di hadapan matanya bukan hanya terbayang pahala dan surga, tetapi juga keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu menyaksikan setiap perbuatannya. Sehingga ia memiliki rasa takut yang besar kepada-Nya, akan murka yang menimpanya jika tidak sesuai dengan apa yang telah diperintahkan-Nya.
Seorang pemimpin Islam akan menjalankan dan menerapkan peraturan Islam secara kaffah. Dengan demikian, masyarakat yang menghadapi berbagai persoalan kehidupan akan merasa dilindungi oleh perisai kepemimpinan serta dinaungi oleh Islam, yang dikenal sebagai agama penuh kedamaian. Oleh karena itu, sistem apa pun selain Islam akan memunculkan banyak problematika kehidupan, sedangkan sistem Islam hadir sebagai solusi yang melahirkan ketenteraman dan kedamaian.
Maka, mari tegakkan Khilafah Islamiyah.
Wallahu a‘lam bishawab.