Opini

Remaja dalam Pusaran Kebebasan: Siapa yang Bertanggung Jawab Membentuk Generasi?

17 Jun 2026  |  32 Views

Oleh: Siti Nurhasna Fauziah, S.Ag.
Penggiat Literasi

Viralnya rekaman video yang memperlihatkan seorang remaja dikeroyok hingga diinjak-injak oleh sesama pelajar di kawasan Baranangsiang, Kota Bogor, kembali menampar kesadaran kita tentang kondisi generasi muda saat ini.

Bogor, rekaman video yang memperlihatkan seorang remaja dikeroyok hingga diinjak-injak sesama pelajar di Baranangsiang, Kota Bogor, viral di media sosial. Polisi menelusuri kejadian tersebut.

“Kita sedang penyelidikan, siapa saja yang ada di dalam video itu, siapa korban dan pelakunya, masih dicari,” kata Kapolsek Bogor Timur, AKP Asep Sundana, ketika dimintai konfirmasi, Kamis (4/6/2026).

Dalam rekaman video viral, tampak seorang remaja bertelanjang dada tertelungkup di gang sempit di antara tembok bangunan. Korban terlihat memakai celana abu-abu. (detik.com)

Berdasarkan hasil pemeriksaan kepolisian, aksi kekerasan tersebut ternyata berkaitan dengan proses penataran atau pengenalan anggota baru yang ingin resmi bergabung dalam sebuah geng. Korban bahkan mengaku bahwa dirinya bergabung atas keinginan sendiri. Lebih mengejutkan lagi, baik pihak korban maupun pelaku sepakat untuk tidak melanjutkan kasus tersebut ke jalur hukum.

Meski demikian, persoalan ini tidak boleh dianggap selesai begitu saja. Kekerasan yang mengatasnamakan solidaritas kelompok, persaudaraan, atau proses penerimaan anggota baru tetap merupakan tindakan yang berbahaya dan berpotensi menimbulkan korban yang lebih besar di masa mendatang. Terlebih, fenomena serupa bukanlah kejadian baru. Dari tahun ke tahun, kasus perundungan, tawuran, geng pelajar, hingga kekerasan antarremaja terus berulang di berbagai daerah. Hal ini menunjukkan adanya persoalan mendasar yang belum terselesaikan.

Remaja merupakan generasi penerus bangsa yang kelak akan memegang estafet kepemimpinan. Oleh karena itu, mereka harus dipersiapkan sebaik mungkin, bukan hanya dari sisi akademik, tetapi juga kepribadian, moral, dan cara pandang terhadap kehidupan. Sayangnya, sistem yang diterapkan saat ini justru memberikan ruang yang sangat besar bagi prinsip kebebasan. Bermodal atas hak setiap individu, remaja dibiarkan menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa arahan yang jelas mengenai standar benar dan salah.

Dalam sistem kapitalis-sekulerisme yang dianut banyak negara saat ini, terdapat empat kebebasan utama yang dijunjung tinggi, yaitu kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan kepemilikan, dan kebebasan berperilaku. Keempat kebebasan ini sering dianggap sebagai pilar kemajuan, padahal pada faktanya dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan remaja.

Pertama, kebebasan beragama membuat agama sering diposisikan hanya sebagai urusan pribadi. Akibatnya, banyak remaja tidak menjadikan ajaran agama sebagai pedoman utama dalam bertindak. Nilai-nilai agama hanya dijalankan ketika dianggap sesuai dengan keinginan mereka.

Kedua, kebebasan berpendapat yang tidak disertai rasa tanggung jawab sehingga melahirkan budaya saling menghina, menyebarkan ujaran kebencian, hingga perilaku perundungan, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Banyak remaja merasa berhak mengatakan apa saja tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Ketiga, kebebasan kepemilikan mendorong lahirnya gaya hidup materialistis. Kesuksesan sering diukur dari banyaknya harta dan barang yang dimiliki. Akibatnya, tidak sedikit remaja yang rela melakukan berbagai cara demi mendapatkan pengakuan sosial.

Keempat, kebebasan berperilaku menjadikan remaja merasa bebas melakukan apa pun selama dianggap sebagai hak pribadi. Inilah yang membuka pintu bagi berbagai penyimpangan, mulai dari pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, hingga keterlibatan dalam geng dan aksi kekerasan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin generasi yang seharusnya menjadi pemimpin masa depan justru kehilangan arah dan semakin jauh dari ideal menjadi seorang pemimpin. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang lebih mengedepankan pemuasan hawa nafsu dibandingkan pembentukan karakter dan tanggung jawab.

Sebagai seorang muslim, sudah selayaknya kita berkaca pada generasi muda Islam yang pernah lahir dari sistem Islam. Salah satu contohnya adalah Muhammad Al-Fatih. Pada usia 21 tahun, ia berhasil memimpin penaklukan Konstantinopel yang selama berabad-abad dianggap mustahil ditaklukkan. Keberhasilan tersebut tidak lahir secara instan, melainkan hasil dari sistem pendidikan Islam yang membentuk kepribadian, akidah, ilmu, dan jiwa kepemimpinannya sejak kecil. Ia tumbuh menjadi pemuda yang unggul lahir dan batin, sukses dalam urusan dunia sekaligus berorientasi pada akhirat.

Fakta sejarah menunjukkan bahwa sistem yang dianut sebuah negara memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian generasi mudanya. Ketika sistem dibangun di atas asas kebebasan, maka lahirlah generasi yang menjadikan hawa nafsu dan kepentingan pribadi sebagai ukuran tindakan. Sebaliknya, ketika sistem dibangun di atas akidah Islam, maka lahirlah generasi yang memiliki standar hidup yang jelas, yaitu ketaatan kepada Allah Swt.

Karena itu, penyelesaian masalah kenakalan remaja tidak cukup hanya dengan razia, sosialisasi, atau hukuman sesaat. Diperlukan perubahan yang mengakar, yaitu sistem yang membentuk cara berpikir, cara pandang, dan cara bersikap generasi. Dalam Islam, sistem Khilafah memiliki aturan yang menyeluruh dalam membina remaja melalui pendidikan berbasis akidah, lingkungan sosial yang sehat, kontrol masyarakat, serta peran negara yang aktif menjaga generasi dari berbagai pemikiran dan perilaku yang merusak.

Sejarah telah membuktikan bahwa sistem inilah yang mampu melahirkan sosok-sosok pemuda ideal yang tidak hanya cerdas dan berprestasi, tetapi juga berakhlak mulia serta siap mengemban amanah kepemimpinan umat.

Wallahu’alam bissawab.

Komentar

0 Komentar

Bagikan Facebook WhatsApp X Telegram
75
Shares