| 295 Views
The Failure of Aqidah Education: A Critical Analysis
Oleh : Welly Okta Milpia
Tawuran telah menjadi fenomena yang meresahkan kalangan remaja saat ini. Hampir setiap hari masyarakat dihadapkan pada kekhawatiran akibat tawuran antar pelajar. Fenomena ini terjadi di berbagai daerah, menambah daftar problematika remaja yang berkutat pada kekerasan seksual, pergaulan bebas, dan tawuran.
Seorang anggota geng motor ditangkap oleh polisi saat hendak melakukan tawuran di Jalan Durung, Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan. Remaja tersebut berinisial WW, yang masih di bawah umur dan mengaku sebagai anggota geng motor Mce_boys. Menurut Kapolres Pelabuhan Belawan, AKBP Janton Silaban, remaja itu ditangkap oleh personel gabungan pada Minggu dini hari (Tribunnews,
22/9/2024)
Kasus tawuran yang berujung pada kematian masih terus terjadi hingga kini. Beberapa insiden, seperti kematian remaja di Babelan, Bekasi, dan Cibinong, Bogor, akibat bentrokan antar kelompok remaja, menjadi bukti nyata. Kekerasan ini tidak hanya melibatkan pelajar, tetapi juga sering menyeret pihak lain, seperti polisi yang bahkan terkena serangan air keras saat mencoba membubarkan tawuran.
Fenomena ini membuat kita semakin khawatir akan masa depan generasi muda. Waktu remaja yang seharusnya digunakan untuk memupuk optimisme dan mempersiapkan diri menyongsong masa depan, justru dihabiskan dalam lingkaran kekerasan dan pergaulan bebas. Apa yang sebenarnya terjadi pada remaja saat ini? Mengapa karakter mereka begitu rapuh?
Jika ditelaah lebih dalam, akan kita temui beberapa faktor penyebab tawuran antar pelajar. Pertama, faktor internal berupa krisis identitas di kalangan remaja. Mereka tampak kehilangan jati diri sebagai hamba Allah dan hanya sekadar mengikuti tren serta budaya populer. Pemahaman sekularisme telah mengikis identitas mereka. Kedua, faktor eksternal, yaitu pengaruh lingkungan sosial di mana mereka tumbuh dan berkembang. Keluarga, sekolah, dan negara memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak.
Dalam hal ini orang tua juga berperan penting dalam memberikan pemahaman agama kepada anak-anak mereka, sehingga mereka terbiasa berperilaku sesuai dengan ajaran Islam. Sekolah, sebagai tempat menimba ilmu, harus menjadi lingkungan yang mendukung pengembangan diri remaja. Selain itu, negara juga harus mengambil peran aktif sebagai penjaga dan pelindung generasi muda dari pengaruh budaya serta pemikiran asing yang merusak moral. Negara wajib menciptakan suasana takwa dalam masyarakat dengan menerapkan kurikulum dan sistem pendidikan Islam yang menyeluruh.
Untuk mewujudkan generasi yang bertakwa dan bebas dari tawuran, langkah ini harus dilakukan melalui penerapan sistem kehidupan Islam secara menyeluruh. Penerapan sistem pendidikan Islam perlu dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan berkesinambungan, dengan melibatkan tiga pilar utama dalam pembentukan kepribadian generasi muda, yaitu keluarga, masyarakat, dan negara. Tujuan dari pendidikan Islam adalah untuk mewujudkan manusia sebagai hamba Allah yang berhasil menjalankan misinya di muka bumi. Dengan berpegang teguh pada ajaran Islam, identitas remaja tidak akan mudah goyah atau terseret oleh arus negatif. Mereka akan mampu menjadi generasi terbaik, yang menggunakan waktunya untuk menuntut ilmu, belajar Islam, dan berkontribusi bagi kemaslahatan umat serta negara.
Bukankah ini merupakan harapan dan cita-cita kita semua? Generasi muda yang bertakwa, penuntut ilmu, aktivis dakwah, serta pelopor kebangkitan peradaban Islam. Di bawah naungan sistem Islam, remaja akan mampu menjadi teladan bagi umat di era ini. Dengan kebijakan yang mendukung dalam sistem Islam, akan terwujud pemuda-pemuda hebat yang taat dan bermanfaat bagi umat. Mereka akan menjadi pemimpin peradaban Islam yang menyebarkan kebaikan bagi seluruh alam.
Wallahu a'lam bish-shawab.