| 505 Views

Peringatan Hari Pengentasan Kemiskinan Internasional: Benarkah dapat Tuntas?

Oleh : Rasmawati Asri, SE

Tanggal 17 Oktober menjadi momentum bagi kita untuk menjadi bagian dalam mengatasi kemiskinan. Setiap tahun peringatan Hari Pengentasan Kemiskinan Internasional diperingati untuk mengajak masyarakat dunia agar sama-sama menyuarakan pentingnya menghapuskan kemiskinan. Peringatan ini menjadi panggilan untuk tindakan nyata di setiap dunia, bukan hanya sekadar upacara seremonial. (Media Indonesia, 17/10/2024).

Berdasarkan laporan Program Pembangunan PBB pada Kamis (17/10/2024) ada satu miliar lebih orang hidup dalam kemiskinan akut di seluruh dunia. Setengah dari jumlah tersebut, anak-anak yang paling terkena dampaknya. UNDP dan OPHI telah menerbitkan Indeks Kemiskinan setiap tahun sejak 2010, dengan mengumpulkan data dari 112 negara dengan populasi gabungan 6,3 miliar orang (Berita Satu, 17/10/2024).

Kemiskinan bukan hanya menimpa Negara Indonesia, melainkan Negara-negara yang lain hingga seluruh dunia.  Adanya sebuah peringatan pengentasan kemiskinan yang diperingati sejak tahun 1992 ini membuktikan bahwa kemiskinan begitu marak, sehingga butuh upaya agar kemiskinan itu berkurang atau hilang.

Adanya kesenjangan anrara di kaya dan si miskin semakin melebar. Peringatan ini merupakan salah satu upaya untuk memberantas kemiskinan, mengajak masyarakat untuk berkontribusi dalam upaya mengurangi kemiskinan, seperti melakukan hal-hal berikut ini. (Media Indonesia, 17/10/2024). 

Pertama, Aksi Solidaritas di Tingkat Lokal dan Global, yaitu melakukan aksi soladaritas  dari beberapa negara, orang-orang berkumpul untuk mengadakan diskusi, seminar, dan lokakarya yang bertujuan membahas isu-isu kemiskinan.
Kampanye di media sosial juga semakin marak, di mana tagar seperti #EndPoverty atau #FightPoverty sering menjadi topik populer di dunia maya. Melalui platform ini, masyarakat menyampaikan pandangan, berbagi cerita inspiratif, dan mempromosikan solusi kreatif untuk melawan kemiskinan.
Selain itu, sejumlah organisasi internasional dan pemerintah lokal kerap mengadakan acara amal, seperti konser penggalangan dana atau kegiatan jalan sehat. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk mengumpulkan dana bagi mereka yang memerlukan, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah kemiskinan yang sering terabaikan.       

Kedua, Kolaborasi Global dalam Pengentasan Kemiskinan yaitu PBB dan berbagai organisasi non-pemerintah (NGO) tetap menjadi aktor kunci dalam upaya global untuk mengurangi kemiskinan. Melalui inisiatif seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 1 yang menargetkan penghapusan kemiskinan dalam segala bentuk di seluruh dunia, banyak negara mulai menerapkan kebijakan yang memfasilitasi akses masyarakat miskin terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan yang layak.

Contoh nyata dari kolaborasi ini adalah inisiatif global Zero Poverty yang melibatkan kerjasama lintas batas antara pemerintah, NGO, dan sektor swasta. Melalui program bantuan internasional dan mikrofinansial, komunitas-komunitas lokal diberdayakan untuk menciptakan usaha kecil yang mandiri dan berkelanjutan.

Ketiga, Inovasi Teknologi untuk Pemberdayaan Ekonomi yaitu   Dengan ponsel pintar dan internet, kini orang-orang dapat mengakses layanan keuangan dasar yang sebelumnya sulit dijangkau, memungkinkan mereka untuk mengembangkan usaha kecil dan meraih kestabilan ekonomi.

Keempat, Pendidikan Sebagai Kunci Pengentasan Kemiskinan, Beberapa organisasi internasional seperti UNESCO dan UNICEF memimpin inisiatif untuk menyediakan pendidikan dasar gratis, terutama bagi anak perempuan yang kerap mengalami ketidakadilan gender dalam akses pendidikan.
           
Kelima, Kebijakan Sosial yang Mendukung Kelompok Rentan. Upaya pengentasan kemiskinan sangat dipengaruhi oleh kebijakan sosial yang diterapkan oleh pemerintah. Di sejumlah negara maju, pemerintah telah mengimplementasikan program jaminan sosial yang meliputi tunjangan pengangguran, asuransi kesehatan, serta bantuan perumahan bagi individu yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Sementara itu, di negara-negara berkembang, program seperti subsidi pangan, akses air bersih, dan bantuan langsung tunai (BLT) masih menjadi langkah utama untuk membantu masyarakat miskin memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Terakhir, Peringatan yang Menginspirasi Tindakan Nyata
Peringatan Hari Pengentasan Kemiskinan Internasional bukan hanya sekadar momentum untuk diingat. Di balik setiap acara, kampanye, dan aksi yang dilaksanakan pada 17 Oktober, tersimpan pesan yang kuat: kemiskinan bukanlah hal yang tak terhindarkan. Dengan langkah-langkah konkret seperti pendidikan inklusif, inovasi teknologi, kolaborasi global, serta kebijakan sosial yang adil, kita dapat memberdayakan masyarakat miskin untuk mencapai masa depan yang lebih baik. 
Setiap tindakan, sekecil apa pun, memiliki pengaruh. Mulai dari donasi individu hingga kolaborasi internasional, semua orang dapat berkontribusi dalam upaya mengurangi kemiskinan. 

Apakah Kemiskinan Berkurang?

Nyatanya hingga hari ini kemiskinan terus meningkat, peringatan Hari Pengentasan Kemiskinan Internasional sejak tahun 1992, belum memberikan hasil yang signifikan. Sekaligus segala upaya dikerahkan tapi masih belum berhasil. 
Di Negara yang menganut system kapitalisme di mana pemerintah telah menerapkan berbagai strategi, namun hingga kini hasilnya belum sesuai dengan harapan, bahkan di beberapa daerah terjadi peningkatan kemiskinan ekstrem. Hal ini menandakan bahwa langkah-langkah yang diambil belum tepat.

Kegagalan pemerintah dalam mengatasi kemiskinan dan kemiskinan ekstrem disebabkan oleh solusi yang tidak menyentuh inti permasalahan. Hanya Islam yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah kemiskinan secara tuntas. Sistem Islam yang lengkap memberikan jaminan agar kemiskinan dapat diatasi. Berikut adalah beberapa langkah yang dianjurkan dalam Islam:

Pertama, negara bertanggung jawab untuk memastikan kebutuhan primer masyarakat terpenuhi. Ini dilakukan dengan mewajibkan laki-laki untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Jika ia tidak mampu, tanggung jawab tersebut dialihkan kepada kerabat terdekat. Apabila tidak ada kerabat yang mampu, negara akan mengambil alih. Orang kaya didorong untuk membantu masyarakat miskin sebagai wujud keimanan mereka.

Kedua, Islam membagi kepemilikan menjadi tiga kategori: individu, umum, dan negara. Individu bebas memperoleh kekayaan selama cara yang digunakan tidak melanggar hukum syariat. Sumber daya alam (SDA) yang termasuk kepemilikan umum akan dikelola oleh negara dan hasilnya disalurkan kembali kepada rakyat. Kepemilikan oleh swasta terhadap SDA dilarang. Sementara itu, kekayaan negara akan digunakan untuk keperluan publik dan pemerintahan.

Ketiga, negara bertanggung jawab untuk mendistribusikan kekayaan secara adil, misalnya dengan memberikan lahan kepada orang-orang yang mampu mengelolanya. 

Keempat, pembangunan ekonomi akan difokuskan pada sektor riil sehingga kekayaan yang dihasilkan nyata, bukan hasil dari spekulasi atau manipulasi.

Seluruh langkah ini hanya dapat dijalankan dalam sistem Islam yang sempurna. Hal ini mustahil dilakukan dalam sistem kapitalisme. Oleh sebab itu, sebagai umat Islam, sudah seharusnya kita kembali pada penerapan Islam secara menyeluruh.

Wallahu'alam.


Share this article via

141 Shares

0 Comment