| 442 Views

Mewaspadai Gempuran Budaya Barat, Awas Arus Moderasi Dimana-mana

Oleh : Jahidah El Husna 

Nyatanya arus moderasi beragama dizaman sekarang ini terus digaungkan dan semakin marak. Belum lama ini Menteri agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas yang hadir dalam acara peluncuran program prioritas dirokturokat jendral bimbingan masyarakat katolik di gedung konferensi Waligereja, mengungkapkan "kemarin Kami sempat mengadakan rapat tentang CPNS ada beberapa guru agama dari Islam dan Kristen untuk sekolah menengah. Tapi tidak ada katolik, belum ada sekolah menengah katolik Negeri".

Menag menganggap pndidikan sekolah menengah katolik merupakan bagian dari kontribusi negara sekaligus pertanda bahwa negara ini terlibat dalam pendidikan agama khususnya bagi umat katolik. Untuk itu Menag mengungkapkan kepada pihaknya agar dapat segera bekerja dalam membentuk satuan pendidikan SMKN di Indonesia, serta membentuk Sekolah menengah katolik negeri sebagai satuan pendidikan agama katolik yang dimiliki pemerintah.

Ajam Mustajam pun mengungkapkan keterlibatan insan pres dalam moderasi beragama di Jawa Barat memiliki peran yang sangat penting. Mereka menyebarluaskan dan mengsosialisasikan moderasi beragama sehingga dapat menguatkan dan meningkatkan pengaruh moderasi ini di Jawa Barat.

Hal tersebut diungkapkan kepada kanwil kemenag Jabar, pada kegiatan organisasi Moderasi Beragama yang digelar di kota Bandung, Senin 13 Mei lalu. kanwil Kemenag Jabar sengaja mengundang insan pres untuk menyebarluaskan hasil konferensi kepada masyarakat, agar masyarakat ini mengenal dan mau mengikuti ide moderasi ini. 

Kembali Ajam mengatakan kanwil kemenag Jabar telah melaksanakan penguat moderasi beragama sejak tahun 2020 dengan prioritas mengubah mindset seluruh Apartur Sipil Negara (ASN) yang ada dilingkungan sekitar. Sehingga lebih meningkatkan penguatan dalam 4 ide nilai moderasi beragama dalam program sekolah menengah untuk katolik ini. 4 nilai penting itu ialah :

  1. Memiliki komitmen kebangsaan
  2. Toleransi
  3. Anti kekerasan
  4. Akomodatif terhadap kearusan lokal

Dengan demikian tugas para penegak moderasi tidak lain adalah menggenggam nilai-nilai moderasi beragama ditengah masyarakat dengan menghadirkan kampung moderasi sebagai ikhtiar untuk menegakan moderasi beragama di Nusantara (fakta didapat dari Metro Jabar).

Ini menjadi bukti bahwa sistem kapitalis sekuler yang diadopsi oleh negara telah menggeser dan menjauhkan umat Islam dari paham Islam yang benar dan baik dan lurus.

Terkhusus di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim, dengan bercampur aduknya agama lain/non Islam di lingkungannya tanpa ada batasan yang jelas, telah mempengaruhi mayoritas muslim yang ada dengan membawa ide moderasi, bahwa semua agama sama dan benar.

Dengan begitu adanya sekolah menengah katolik adalah bentuk toleransi beragama menurut paham sekuler, katanya tak perlu dipermasalahkan, "toh pemerintah juga menyetujui". Nah inilah bukti penerapan sistem Demokrasi yang diterapkan oleh negara yang dimanifestasikan kedalam bentuk kebebasan-kebebasan dalam kehidupan ini. Padahal setiap agama, terlebih khususnya Islam, telah memilki batas-batas yang jelas dalam menerapkan hukum agamanya. Maka tak bisalah dikatakan bahwa muslim itu sama dengan kristen, atau kristen sama dengan budha. Dari segi ajarannya saja berbeda, bagaimana bisa disama-samakan?

Dengan begitu semakin jauhlah umat Islam dari ajaran-ajarannya. Terlebih mirisnya lagi, ada banyak orang yang mengaku muslim tetapi menganggap Islam Kaffah sebagai Islam yang teroris.

Masyarakat Islam saat ini dianggap sudah tersusupi paham radikal, jadi harus disterilkan dengan moderasi. Begitulah selama ini opini moderasi beragama terus diaruskan dan dihembus-hembuskan ditengah masyarakat, dimana semua agama dianggap baik. Bahkan paham seperti inilah yang justru menyesatkan dan membahayakan.

Maka dari itu, Stop moderasi beragama. Cukup Islam Kaffah sebagai jalan kehidupan seorang muslim. Tidak mungkin ada agama yang sama dan lebih baik kecuali Islam. Hal ini telah dijelaskan sebagaimana didalam QS. Ali Imran ayat 19 berikut, 
اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ (١٩)

Artinya "sesungguhnya agama difirman Allah sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang yang telah diberi kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian diantara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh Allah sangat cepat perhitungannya."

Ini membuktikan bahwa jelas moderasi adalah paham yang salah dan menyesatkan. Walaupun memang benar adanya bahwa Islam adalah agama toleran, bahkan Islam merupakan agama yang sangat ramah. Islam membolehkan toleransi dengan agama lain. Sebab sejatinya Islam tidak pernah memaksa manusia untuk masuk kedalam agama Islam.

Sebagaimana yang terdapat didalam firman Allah QS Al-Baqarah ayat 256 berikut:
لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَاۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ( ٢٥٦)

Artinya : Tidak ada paksaan untuk menganut agama Islam sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat.

Tetapi perlu diketahui juga bahwa toleransi yang diperbolehkan dalam Islam adalah dengan membiarkan agama lain dengan agamanya sendiri, tanpa kita sebagai umat Islam ikut-ikutan. Nah inilah bukti bahwa paham moderasi beragama justru mengajarkan yang sebaliknya. Contohnya dalam hal hari raya, umat Islam punya hari raya sendiri, umat kristen punya hari rayanya juga, serta umat katolik punya hari rayanya. Apakah hari raya mereka sama? Jelas tidak bukan? 

Nah fenomena saat ini itu, ketika datang hari raya kristen umat muslim ikut ngerayain, giliran katolik yang hari raya, kita ikut juga. Entah ikut mengucapkan, memberi hadiah, memberi bantuan dan sumbangan dana, atau tenaganya. Hal ini jelas tidak diperbolehkan dalam Islam. 

Islam memandang toleransi hari raya umat-umat lain selain Islam hanya dengan membiarkannya tanpa kita ikut-ikutan. Begitupun sama dengan Menag yang katanya menganut agama Islam, harusnya dapat membiarkan Umat agama lain menjalankan agamanya sendiri tanpa perlu ikut-ikutan, karena hal itu jelas dilarang. 

Seharusnya Menag pula, dapat melindungi umat muslim dari segi akidahnya. Jangan sampai umat muslim sama seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani mulut berucap apa tapi hati berkata lain. Inilah perumpamaan orang yang mengaku Islam tapi tidak mau bahkan tidak suka sampai mengingkari aturan Islam. Maka dari itu partisipasi Menag terhadap pendirian sekolah menengah adalah satu hal yang sangat tidak berprinsip Islam dan dan tidak mencerminkan muslim sejati.

Demikianlah potret negara yang menerapkan sistem demokrasi dalam bingkai kapitalis-sekuler. Tidak ada keadilan, keamanan, terlebih lagi kesejahteraan. Sangat miris bukan?

Sekali lagi moderasi adalah buah dari diterapkannya sistem saat ini. Dengan demikian jika kita menginginkan Indonesia terlepas dari berbagai sabotase yang sangat jahat ini, tidak ada cara lain selain mengubah sistem yang bobrok ini dengan sistem yang paripurna. Ganti sistem yang dibuat oleh manusia dengan diterapkannya sistem yang telah diturunkan Allah SWT yaitu syariat Islam Kaffah dalam bingkai Khilafah. Maka setelah itu terjadi, akan kita didapati sebuah kehidupan yang sejahtera sebab Islam itu Rahmatan lil 'alamin, Rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a'lam bish-showwab []


Share this article via

175 Shares

0 Comment