| 49 Views
Maraknya Pinjol di Momentum Idul Fitri, Buah dari Penerapan Ekonomi Sekuler
Oleh : Tuni Anggraini
Idul Fitri adalah hari kemenangan yang seharusnya memberikan kegembiraan bagi seluruh umat Islam. Momen kemenangan dan kebahagiaan ini sayangnya hanya bersifat maknawi saja sebab jiwa dan fisik umat saat ini justru tertawan oleh riba dan terlilit utang-piutang.
Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bahan pokok yang serba mahal, dan gaya hidup materialistis, menjadikan masyarakat hidup dalam keterpurukan dan pada akhirnya banyak yang salah jalan hingga menghalalkan segala cara dengan terjerat pinjol. Tak heran jika hal ini banyak dialami oleh masyarakat dalam sistem kufur saat ini. Masyarakat dalam di sistem saat ini cenderung menitikberatkan segala perbuatan yang tidak berlandaskan kepada hukum syara. Masyarakat cenderung hidup dengan gaya hidup yang hedonis. Momen berkumpul menyambung silaturahmi justru seringkali dijadikan momen saling unjuk kekayaan. Aturan agama dianggap kaku ketinggalan zaman, alias mundur terbelakang dan membuat masyarakat merasa terkekang hidupnya.
Sistem sekulerisme membuat manusia bebas membuat aturan sendiri, menghukumi halal menjadi haram dan mengharamkan yang halal, atas dasar inilah riba menjadi jamur di musim hujan tumbuh subur dinegeri ini, hal ini pula yang menjadikan mereka sangat mudah tergiur. Namun, ketika saatnya tiba membayar hutang banyak dari masyarakat justru tak mampu membayarnya. Hidup dalam sistem ekonomi sekuler seringkali menjadikan masyarakat kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Ditambah lagi tingginya harga bahan pokok dan kebutuhan hidup di tengah rendahnya pendapatan/gaji menjadikan masyarakat semakin menderita. Banyak dari masyarakat yang akhirnya memilih untuk merantau ke negeri lain demi untuk melunasi hutang bahkan yang lebih memprihatinkan tidak sedikit yang akhirnya putus asa dan mengakhiri hidupnya.
Negara dalam sistem kapitalisme, terbukti telah gagal dalam meri'ayah masyarakatnya. Dalam sistem kapitalisme sekuler negara justru sering hadir menjadi pelayan bagi kepentingan kapitalisme global, bukan menjadi pelayan bagi kebutuhan rakyat. Sistem kapitalisme sekuler juga melegalkan praktek ribawi tidak heran praktek ini semakin marak di tengah masyarakat meskipun syariat Islam melarangnya.
Hal ini tentu berbeda ketika sistem Islam diterapkan dimana sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan adalah hak rakyat yang wajib dijamin negara. Hal ini telah dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab yang menjadikan malamnya untuk berpatroli memastikan warganya tidak ada yang kelaparan.
Islam sendiri memiliki pengelolaan keuangan yang sangat independen bahkan jauh dari Ribawi. Hal ini terjadi karena negara amanah dalam mengelola sumberdaya alamnya demi kemaslahatan umat sepenuhnya.
Sistem Islam bahkan memiliki solusi fundamental agar umat jauh dari kesulitan ekonomi dan terlilit hutang. Negara secara penuh akan mengupayakan menciptakan lapangan kerja bagi para suami agar mampu menopang ketahanan keluarga sebab mereka adalah tulang punggung keluarga yang bertanggung jawab atas kebutuhan keluarganya.
Salah satu contoh syariat sebagai solusi atas ekonomi umat adalah Islam melarang tanah yang tidak dikelola selama 3 tahun berturut-turut, diwajibkan atas tanah tersebut dijual atau diberikan kepada mereka yang mampu mengelolanya. Yang ini jelas berbeda jauh dengan sistem kapitalisme saat ini. Tanah ratusan hektar bisa dikuasai satu orang tanpa dikelola sama sekali sedang rakyat membutuhkan lahan sebagai sumber penghasilan.
Sistem Islam memutus rantai Ribawi dari hulu hingga hilir, dan negara akan hadir sebagai pelayan, bukan pedagang. Sejahtera bukan karena utang, tapi karena hak-hak ditunaikan dan yang haram ditutup jalannya. Sebab, islamlah solusi nyata bagi problematika umat saat ini.
Waulohualam bi ash-shawaab.