| 454 Views
Mahalnya Harga Kesehatan, Dalam sistem Kapitalisme
Oleh : Siti Rofiqoh
Kesehatan merupakan aspek penting yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Dimana mendapatkan pelayanan kesehatan yang merata sudah menjadi hak bagi warga negara, tanpa memandang lagi usia dan statusnya di dalam masyarakat.
Melirik fakta hari ini, d jumlah penduduk Kalimantan Tengah berjumlah sekitar 2,7 juta jiwa, sehingga memerlukan 2.700 dokter. Namun saat ini, jumlah dokter hanya ada 800 orang. Sehingga masih memerlukan sekitar 1.900 dokter lagi untuk mencapai ideal. (RRI.co.id, 01/10/2024).
Fakta ini menunjukkan bahwa tenaga medis yang ada di Indonesia terutama di Kalimantan jauh dari kata memadai atau ideal.
Ini membuktikan bahwa tenaga medis atau kesehatan di Indonesia sangat rendah dalam hal kuantitas, sementara pertumbuhan penduduk yang makin pesat akan sangat membutuhkan banyak tenaga medis dari berbagai penyakit.
Hidup di dalam Sistem Kapitalis Sekuler memang tak bisa jauh dari yang namanya problem-problem kehidupan yang tak tertuntaskan, dimulai dari banyaknya sarang penyakit yang di dapatkan karena lingkungan hidup yang tidak sehat dan tidak memadai, fasilitas umum yang baik serta abainya negara dengan kesehatan rakyat. Ditambah lagi dengan minimnya fasilitas dan tenaga medis membuat perbandingan skala yang besar antara penduduk dan tenaga medis.
Berdasarkan data di bawah, proporsi penduduk perdesaan yang pernah melakukan self-medication cenderung meningkat pada tahun 2022, tetapi menurun pada 2023 dengan perbedaan yang tidak terlalu signifikan, yakni sebesar 3,5%, (goodstats.id, 06/06/2024).
Minimnya fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang ada, membuat rakyat terutama yang tinggal di pedesaan tak punya pilihan lain selain melakukan pengobatan dengan self medication atau swamedikasi.
Self medication adalah usaha untuk menyembuhkan diri dari penyakit tanpa diagnosa dari dokter. Seperti membeli obat tanpa resep dokter, minum obat yang menurutnya sesuai dengan penyakit yang diderita.
Pengobatan dengan self medication ini bermanfaat apabila dilakukan dengan tepat, tapi juga akan menimbulkan dampak negatif seperti, salah mendiagnosa penyakit, penggunaan obat dengan dosis yang berlebihan dan lain sebagainya.
Berbicara terkait problem kesehatan. Tak sampai disitu, masih banyak problem lainnya. Seperti, fasilitas dan tenaga medis yang tidak merata, biaya yang mahal/komersialisasi dan lain sebagainya. Sehingga yang dirasakan oleh rakyat adalah adanya ketidakadilan dalam mendapatkan pelayanan terbaik, karena tidak semua warga negara bisa mengakses layanan kesehatan.
Dampak dari berbagai persoalan kesehatan diatas tak jauh dari buah hasil kepemimpinan sekuler yang diterapkan saat ini. Dimana negara abai dengan perannya sebagai penjaga dan pelindung serta melayani rakyatnya.
Di dalam kepemimpinan sekuler negara hanya berperan sebatas regulator dan fasilitator. Bahkan terkait kesehatan pun justru dikapitalisasi. Sehingga yang bisa mengakses pelayanan kesehatan terbaik hanya di kalangan tertentu bukan untuk semua warga negara.
Hal ini sangat jauh berbeda ketika kita hidup di dalam sistem kepemimpinan Islam. Dimana negara atau khalifah berperan langsung sebagai pengurus rakyat.
Di dalam negara Islam kesehatan menjadi kepentingan dasar yang harus di penuhi dan di perhatikan oleh Khalifah. Sehingga tak ada satupun rakyat yang akan mengadukan kesulitan dalam mengakses pelayanan kesehatan.
Di dalam negara Islam, pelayanan kesehatan akan didapatkan secara merata dan gratis untuk setiap warga negara, baik itu orang kaya ataupun miskin, baik dia kafir atau pun muslim.
Hal ini di lakukan oleh Khalifah demi menjaga kesehatan warga negara nya. Tenaga medis yang berkualitas dan fasilitas kesehatan yang memadai itu di danai langsung oleh negara melalui sumber dari Baitul mal, terutama hasil dari pos kepemilikan umum.
Pelayanan kesehatan yang baik dan kualitas yang terbaik hanya akan kita rasakan ketika berada di bawah naungan sistem kepemimpinan Islam yakni khilafah. Bukan dibawah kepemimpinan kapitalis sekuler yang justru menjerat rakyat itu sendiri dengan sulitnya mendapatkan akses pelayanan kesehatan.
Wallahu'alam